April 09, 2010

[copas] TVOne Akhirnya Minta Maaf Terkait Markus Palsu

Markus atau Makelar kasus lagi naik daun pekan-pekan ini, apalagi dengan kasus narasumber palsu sebagai markus yang di siarkan oleh TVOne yang menganggap sebagai stasiun berita di Indonesia.

Markas Besar Polri menangkap seorang yang diklaim sebagai narasumber program acara Apa Kabar Indonesia Pagi TVOne. Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Edward Aritonang menyebutkan, penangkapan tersebut dilandasi atas dugaan rekayasa berita.

Terkait dengan pernyataan yang dikeluarkan Mabes Polri, TVOne menyatakan belum dapat memastikan apakah makelar kasus yang dimaksud adalah narasumber yang pernah tampil di program Apa Kabar Indonesia Pagi tanggal 18 Maret lalu. Tetapi juru bicara TVOne, sekaligus General Manajer Divisi Pemberitaan, Totok Suryanto menyatakan, “Tidak pernah ada rekayasa yang dilakukan dalam setiap pemberitan,” Ujarnya semalam jam 19:44 WIB, Kamis, 8 April 2010.

Saat acara diskusi AJI (Aliansi Jurnalis Independen) di Hotel Aryaduta, Jakarta,Kamis sore, 8 April 2010, ketika bubaran diskusi tersebut, saya bertanya dengan Presenter TVOne Tina Talisa,” Ini ada SMS yang masuk melalui Handphone AJI yang menyebutkan bahwa IR (Indy Rahmawati) ditangkap polisi terkait masalah narasumber markus palsu, dengan santai Tina menjawab,”Oh saya belum tahu itu sambil tertawa.”

Untuk melindungi diri karena sering dikomplain oleh narasumber pada setiap acara di TVOne, Tina Talisa juga akan masuk AJI,”Iya mas, saya sering dikomplain oleh narasumber, maka saya akan masuk AJI, agar ada yang melindungi bila ada apa-apa, saya malas masuk PWI,” ujar Tina sambil tersenyum. “Awas mbak Tina Talisa nanti di culik orang,” ujar saya dan Tina Talisa pun tertawa bersama rekan-rekan dari AJI.

Sedangkan uang yang dianggap sebagai biaya untuk merekayasa penuturan makelar kasus, sebesar Rp1,5 juta, seperti yang dituduhkan adalah honor narasumber yang biasa diberikan. Stasiun televisi TVOne akan menuntut balik Andris, narasumber Apa Kabar Indonesia (AKI) dengan tema markus di Mabes Polri pada 18 Maret 2010 lalu. Andris dituntut atas pencemaran nama baik presenter TVOne, Indy Rahmawati.

GM News and Sport tvOne Totok Suryanto dalam jumpa pers live di TVOne, Jumat 9 April 2010, mengatakan, TVOne yakin sumber yang dihadirkan dalam tayangan 18 Maret adalah makelar kasus. ”Berdasarkan beberapa hal selain informasi yang diberikan beberapa pihak terkait yang bersangkutan dan beberapa orang lainnya tentang yang bersangkutan. Yang bersangkutan juga pernah datang sebagai markus. Atas dasar itulah kita yakin yang bersangkutan sesuai pengakuannya, markus. Maka kita yakin yang bersangkutan markus,” ujar Totok.

TVOne menampilkan Andris Renaldi, pria yang mengaku markus di Mabes Polri. Namun belakangan, pria yang dalam tayangan TVOne bernama Roni itu diduga markus palsu. TVOne pun minta maaf. ”Saya atas nama TVOne minta maaf sebesar-besarnya bila institusi Polri dan Bapak Kapolri terganggu,” kata GM News TVOne Toto Suryanto dalam jumpa pers di kantor TVOne.

Namun Andris siang tadi dalam jumpa pers di Mabes Polri mengaku sengaja diminta menjadi markus dan disuruh membaca skenario oleh Indy. Memperhatikan apa yang disampaikan Andris bahwa ia bukan markus, maka TVOne melakukan sejumlah langkah.

“Pertama, kami akan menuntut balik yang bersangkutan karena telah memberikan info pengakuan yang palsu. Untuk itu kami dalam pertemuan dengan Dewan Pers akan membawa bukti,” kata Totok lebih lanjut. Dewan Pers pun siap-siap memanggil TVOne terkait pemberitaan kasus markus palsu ini, rencanannya senin, 11 April 2010, TVOne harus memberi pertanggungjawaban atas apa yang sudah terjadi. ”Kedua, terkait pencemaran nama baik Indy Rahmawati yang terkait isu telah merekayasa yang bersangkutan telah melakukan penipuan atas jati diri yang bersangkutan kepada TVOne,” kata Totok.

Dalam jumpa pers itu, Toto juga menyampaikan menghargai apa yang dilakukan Mabes Polri, termasuk menghadirkan Andris dalam jumpa pers di Mabes Polri siang tadi. Karena sebelum tayangan itu disiarkan, pihaknya telah melakukan tahapan-tahapan verifikasi termasuk nara sumber. TVOne juga telah melakukan sesuai kode etik jurnalistik, tetapi masih juga kecolongan.

Berikanlah pemberitaan yang benar, jangan membodohi publik dan tidak mengejar rating semata, semoga ini menjadi pembelajaran bagi setiap stasiun Televisi lainnya.[rachmad yuliadi nasir]

[copas] IR, Presenter Cantik dan Rendah Hati

"Sigmoid Curve" memang memungkinkan seseorang untuk melompat dari kurva pertama ke kurva kedua. Tapi, pandangan itu mengabaikan asumsi keterbatasan dan sunatullah.

Kalimat pendek itu ditulis teman facebook pagi tadi dan maknanya cukup menggelitik. "Sigmoid Curve" adalah pandangan Charles Handy soal dinamika seseorang atau organisasi dalam melakukan perubahan. Menurutnya, kurva pertama merupakan bentangan jalan untuk melompat ke bentangan kedua sebagai keberhasilan. Pandangan itu menjadi pegangan Rhenald Kasali dalam mengupas buku Change yang laris manis bak kacang goreng.

Tapi, teman saya itu, saya sangat yakin bukan sedang berbicara dalam konteks manajemen atau organisasi. Yang saya pahami, ia memiliki minat yang sangat berlebih menyangkut dunia jurnalisme, televisi, dan budaya. Bahkan, belakangan ini bertambah dengan masalah pendidikan dan komunikasi. Firasat saya, ia memaknai kasus rekannya (IR=Indy Rahmawati) yang disebut makelar berita alias membayar markus palsu demi bersedia menjadi narasumber dalam sebuah acara talkshow di stasiun TVone.

Bicara tentang IR, saya ingat kehadirannya sekitar sebelas tahun yang lalu di stasiun SCTV. Ia reporter bertubuh mungil, cantik, cukup cerdas, tapi sedikit pemalu. Dan nyaris tidak ada sesuatu yang menonjol dalam dirinya. Modal suara yang michrophonis (maklum bekas penyiar radio) memang menempatkannya sebagai presenter.

Sebagai reporter memang tidak terlalu berprestasi. Hal ini bisa dibuktikan dengan pengamatan selama bertahun-tahun bekerja, kita tidak melihat karya dasyatnya. Entah karena ia menempati pos yang kurang "bunyi" di desk ekbis atau karena hal lain. Sebagai prsenter pun, ia jauh di belakang para seniornya.

Belakangan, sepulangnya dari liputan kenegaraan ke Negeri Paman Sam --waktu itu Pemred Liputan 6 (KI) ikutan juga-- tiba-tiba pamornya melesat. Ia disebut-sebut salah satu KI's angles --terserah diartikan positif atau negatif. Selain mendapat porsi siaran yang lebih banyak, ia pun lompat menjadi produser!

Ketika KI (Karni Ilyas) tergusur dari peta Liputan 6 oleh Kelompok Rosianna Silalahi, nasib IR ikut tergerus. Ia diplot menjadi produser program talkshow yang jauh dari minat dan kemampuannya. Sebagai produser, sebenarnya kapabilitasnya belum teruji. Selain sekadar penyunting naskah.

Tidak tahan dengan iklim yang makin tidak nyaman di bawah rezim Rossy, IR hengkang ke "pelukan" sang KI. Dan seperti jebolan-jebolan Liputan 6 lain, ia pun menempati posisi penting dan porsi siaran yang lebih besar. Artinya, peran kepresenterannya makin berkilau. Sekaligus juga, karirnya sebagai jurnalis televisi makin cemerlang --setidaknya di mata rekan-rekannya.

Tapi, IR tetap IR. Ia murah senyum, low profile, dan cantik. Ia memang ramah dan tidak pernah sombong. Dedikasinya terhadap pekerjaan pun luar biasa. Ia ikhlas "mengatur" jarak antara Bandung dan Jakarta, antara suami dan pekerjaan, demi karirnya. Hal itu dilakukan selama bertahun-tahun sejak gajinya hanya sebatas membayar kos dan ongkos PP Jakarta-Bandung!

Ketika posisinya makin berkilau dan tanggung jawabnya kian tak terbendung, beban kebutuhan program main bejibun, plus jejalan deadline makin membabi-buta, akhirnya tersandung juga. Tidak jelas benar, bagaimana perannya dalam kasus makelar berita itu. Idealnya, porsi "makelar berita" itu adalah porsi produser atau produser eksekutif. Sedangkan IR hanyalah presenter. Entah bila ia menempati struktur kreatif produser atau produser eksekutif dalam program itu.

Kalaupun salah, maka ia adalah korban dari kapitalisme media yang semakin hari semakin rakus dan membabi buta. Terlebih lagi untuk media yang memposisikan sebagai stasiun berita. Bandingkan kuantitas SDM, kuantitas durasi, dan segala tuntutan-tuntutannya? Bila hal ini sudah terjawab, maka munculnya kasus-kasus IR lain hanyalah menunggu waktu.

Ketika konteks "keterbatasan" dan "sunatullah" disodorkan, saya sangat yakin, hal itu mengingatkan kita semua soal uoaya membendung ambisi. Cara atau teknik memang bisa dilakukan untuk menggapai keinginan. Tapi, ketika bentangan kurva pertama dilewati dan bersiap-siap menanjak ke bentangan kedua atau sedang meniti bentangan kedua, sesungguhnya bakal ada hadangan lain dari Yang Maha Pencipta. Kaum spiritual menyebutnya hidayah.

Intinya, melangkah sesuai dengan kewajaran, tidak memaksakan diri, ngoyo, apalagi menghalalkan segala cara. Cobalah menyusuri bentangan kurva pertama dengan kejujuran dan apa adanya sehingga ketika melompat atau menyusuri bentangan kurva kedua sudah sangat siap. Termasuk, ketika dihadapkan kendala atau sunatullah.

Kalimat pendek yang inspiratif. Saya berharap analisis saya tidak keliru.[jaloe]

[copas] Menggugat Profesionalisme TVOne dan Pers Nasional

Suasana jalan raya di salah satu sudut kota Jakarta tampak teralihkan ketika terdengar benturan keras yang membuat orang yang berlalu lalang ditempat itu mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara itu. Kecelakaan Motor, itu penyebabnya. Orang-orang berlarian kearah korban berusaha untuk memberikan pertolongan.

Namun dari arah belakang sayup-sayup terdengar suara orang berteriak, "Lihat nametag-nya...itu orang pajak. Koruptor, tidak usah ditolong".

Dan massa yang mendengar provokasi tersebut seketika itu juga meninggalkan korban yang berusaha bangkit dengan luka disekujur tubuhnya.

Dan ini adalah kisah nyata....

Kasus diatas merupakan salah satu ekses akibat maraknya berita mengenai Gayus dan steriotipe miring mengenai petugas pajak yaitu : bahwa orang Pajak Pasti Kaya, orang pajak pasti korupsi, orang pajak tidak boleh kita percayai (statement Fachri Hamzah) dan steriotipe-steriotipe lainnya. Begitu besarnya peran pers dalam membentuk opini masyarakat seolah memberikan dasar atas setiap pemikiran tindakan kita.

Fungsi Pers

Menurut ketentuan pasal 33 UU No. 40 tahun 1999 tentang pers, fungi pers adalah : sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Berita yang baik adalah berita yang berisi informasi yang mempu mencerdaskan orang yang mengkonsumsinya sehingga tidak terdapat unsur provokatif, rekayasa, terjaga validitasnya, terjaga indepedensinya dan tidak memiliki maksud dan tujuan tertentu. Kasus TVOne seolah mulai membuka mata kita bahwa kita harus cerdas dalam memfilter semua berita yang kita konsumsi. Second opinion, selayaknya kita butuhkan agar tidak menjadi katak dalam tempurung.

Peran Pers

Pasal 6 UU Pers menegaskan bahwa pers nasional melaksanakan peranan sebagai berikut: memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui menegakkkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia, serta menghormati kebhinekaan mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benar melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Berdasarkan fungsi dan peranan pers yang demikian, lembaga pers sering disebut sebagai pilar keempat demokrasi (the fourth estate) setelah lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif , serta pembentuk opini publik yang paling potensial dan efektif.

Namun, Fungsi peranan pers itu baru dapat dijalankan secara optimal apabila terdapat jaminan kebebasan pers dari pemerintah. Dan agaknya kebebasan pers di Indonesia telah mendapatkan angin segar dari pemerintah dengan dibubarkannya Departemen Penerangan yang pada orde baru menjadi alat penguasa dalam membatasi ruang gerak pers di Indonesia.

Independensi Pers di Indonesia

Berbicara mengenai indepedensi pers di Indonesia sebenarnya telah dibahas oleh Neof Ana dalam tulisannya "Menguak Independensi Media Massa Indonesia". Secara garis besar dinyatakan disana bahwa belum ada laporan yang menyebutkan mengenai independensi media massa di Indonesia, akan tetapi dapat kita lihat secara kasat mata bahwa ada dua media pertelevisian yang dikuasai oleh pimpinan ormas dan parpol di Indonesia. Saya harap kedua media tersebut mampu menjaga independensi mereka walau saya seringkali terusik oleh beberapa pemberitaan kedua media ini yang "seolah" tidak proporsional.

Kasus Markus Palsu di TVOne

Benar atau tidaknya kasus markus palsu ini setidaknya mengurangi kepercayaan saya terhadap stasiun televisi yang menayangkan berita ini. Tidakkah kita cukup disuguhi oleh fenomena mafia kasus dan mafia pajak...akankah harus kita tambah dengan fenomena Mafia Berita (maaf kalau terlalu kasar). Dewan pers sudah selayaknya menyikapi hal ini dengan segera agar tidak terjadi interpretasi negatif masyarakat terhadap pers nasional. Untuk TVOne, saya harap stasiun televisi ini segera berbenah. Jangan hanya berteriak benahi kepolisian, benahi Kejaksaan, benahi DPR, Benahi Pajak, dan sebagainya. SUDAHKAH ANDA MEMBENAHI DIRI ANDA SENDIRI? Semoga TV One dapat menjadi salah satu TV berita yang andal dan dapat kita percayai...

Untuk Pers Indonesia Yang Lebih Baik

Albert Camus, novelis terkenal dari Perancis pernah mengatakan bahwa pers bebas dapat baik dan dapat buruk , namun tanpa pers bebas yang ada hanya celaka. Oleh karena itu, saya harap kasus TVOne ini tidak berlarut-larut. Pers sebagai kontrol sosial diperlukan dalam menjaga agar aparatur negara dapat menjalankan perannya dengan sewajarnya. Disaat sekarang, pers seharusnya bersatu didalam menepis isu miring yang melanda TVOne dan bukan malah saling menjatuhkan. Pers Indonesia harus lebih baik lagi, berikanlah berita yang mendidik masyarakat bukan memprovokasi. Berita yang jujur dan bukan demi oplah, rating ataupun uang.

Untuk pers nasional yang lebih baik

Sumber :

  • http://politikana.com/baca/2010/04/06/menguak-independensi-media-massa-indonesia.html
  • http://politikana.com/baca/2010/04/08/tvone-membohongi-publik.html
  • http://www.dewanpers.org/dpers.php?x=agenda&y=list
  • http://id.shvoong.com/law-and-politics/1785809-fungsi-dan-peranan-pers-di/

Pondok Safari, 8 April 2010

Pemerhati Pers Indonesia

Anto W.