Februari 06, 2010

menanti "memotret khatulistiwa"

Setelah Gado-Gado Sang Jurnalis: Rundown Wartawan Ecek-Ecek, dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi Gramata Publishing akan meluncurkan buku terbaru syaiful HALIM, Memotret Khatulistiwa.

Seakan sekuel buku terdahulu, Memotret Khatulistiwa menjabarkan perjalanan sang Penulis saat memproduksi dokumenter televisi di sejumlah daerah terpencil --dalam buku Gado-Gado Sang Jurnalis, sang Penulis menyinggung teknis produksi program khusus dan kiprahnya sebagai kreator. Termasuk, mengungkap kedekatan sang Penulis dengan beberapa komunitas adat dan situs-situs prasejarah di Tanah Air.

Dengan tagline "Catatan Petualangan dan Pembuatan Film Dokumenter tentang Komunitas Adat dan Situs Arkeologis", Memotret Khatulistiwa menawarkan empat hal utama, yakni feature bergenre laporan perjalanan yang murni petualangan, catatan the making of atau produksi program dokumenter POTRET di SCTV, sekilas etnografi atau penggambaran wajah suku-suku atau etnik di Tanah Air --kajian Ilmu Antropologi, dan pelukisan situs-situs arkeologis di pelosok negeri --kajian Ilmu Arkeologi.

Seperti juga buku terdahulunya, kali ini pun syaiful HALIM tetap memainkan sejumlah sudut pandang untuk mengolah data plus dengan gaya bahasa yang ringan dan cenderung popular. Sehingga, materi yang berat dan dalam menjadi terasa ringan dan layak dikunyah oleh kalangan pembaca awam sekali pun.

Ingin menjadi dari bagian petualangan para kreator POTRET itu? Nantikan kehadiran Memotret Khatulistiwa sesaat lagi. So, stay tune in this blog.[]

Desember 30, 2009

gus dur = wali?

Inayah Wahid: "Waktu ke Jombang, Gus Dur serasa diminta datang oleh mbah KH Hasyim Asyhari. Waktu di Jombang, sempat bilang ke sepupunya agar dijemput pada 31 Desember ini."

Adakah beliau sudah mengetahui tanda-tanda panggilanNya? Kalau iya, artinya beliau memang memiliki maqom spiritual yang luar biasa dan pantas sebagian besar warga Nahdliyin menganggapnya wali. Paling tidak wali (pelindung) bagi kaum kecil.

Semoga Allah SWT melapangkan kuburnya dan menyediakan tempat terindah di alam sana. Kami akan selalu merindukanmu, Gus...[]

Desember 28, 2009

mengapa pekerja infotainment sering nekad berburu artis?

Jika anda adalah salah satu dari sekian banyak pemersa TV yang rajin menonton adegan yang memperlihatkan para pekerja infotainment mengejar para artis untuk di wawancarai, mungkin anda akan merasa heran.

Keheranan tsb terkait dengan beberapa hal seperti adanya kesan betapa para pekerja infotainment itu seperti memaksa untuk mengadakan wawancara terhadap artis yang pada saat itu sebenarnya tidak bersedia untuk diwawancarai.

Hak privasi dan kebebasan para artis itu pun seperti diganggu oleh para pekerja infotainment yang sering memburu mereka. Lebih dari itu jika artis yang bersangkutan tidak ada di rumah karena kesibukan tertentu atau mungkin juga karena menghindar, para pekerja infotainment itu tetap menunggunya hingga larut malam bahkan hingga pagi hari.

Seperti telah pernah diberitakan sebelumnya beberapa artis dan tokoh masyarakat seperti Aa Gym bukan saja merasa terganggu dengan kedatangan para pekerja infotainment tsb tapi juga sampai tidak dapat menahan kemarahannya kepada para pekerja infotainment ini.

Anehnya walaupun para pekerja infotainment sudah sering kali mengalami konflik dengan para artis dan tokoh masyarakat, bahkan para ulama sudah mengatakan kalau liputan gosip infotainment ini hukumnya haram, mereka tetap saja nekad menjalankan perkerjaannya dengan cara-cara seperti itu. Apa sebabnya ?

PEKERJAANNYA SEPERTI MENGEJAR SETORAN

Seorang pekerja infotainment yang bekerja di sebuah rumah produksi (PH), ketika diwawancarai oleh Detik.com menerangkan tentang liku-liku pekerjaannya. Dari keterangan tsb kita semua sedikit banyaknya akan bisa memahami, mengapa para pekerja infotainment itu sering nekad dan terkesan seperti memaksa ketika mewawancarai artis.

Dari keterangan tsb terungkaplah bahwa pekerja infotainment bekerja di bawah tekanan (under pressure), karena mengejar target yang dibebani bos mereka dalam waktu yang singkat, di samping juga harus bersaing dengan pekerja infotainment dari PH yang lain. Lebih detailnya para perkeja infotainment itu bekerja di bawah tekanan karena pola kerja sbb:

Program infotainment tayang setiap hari, akibatnya mereka sering pulang larut malam, bahkan sering tidak bisa libur. Kalau dapat libur itu pun tidak menentu.

Saat sedang sedang off (libur) mereka harus siap jika ada telepon dari kantor untuk mengejar artis tertentu.

Tidak jarang mereka harus menggarap dua tayangan sekaligus yang digarap perusahan.

Mereka harus rela menanti hingga larut malam hingga pagi hari untuk bisa meminta komentar atau tanggapan dari artis yang diburu terutama artis yang sedang terlibat kasus tertentu seperti kasus criminal, perceraian, kawin siri, dll.

Di samping mendapat keterangan dari artis yang diburu, hal yang lebih sulit adalah mereka harus bersaing untuk bisa mendapat gambar artis ybs. Tidak jarang hal ini menimbulkan konflik dengan artis ybs.

Semua tekanan yang mereka dapatkan dari pekerjaan tsb termasuk tekanan akibat konflik dengan para artis harus mereka hadapi terus, karena menurut pendapat mereka, “lebih baik di maki artis daripada disemprot bos.

Kalau dipikir-pikir, tampaknya tugas para pekerjaan infotainment ini ada kemiripan dengan supir metromini yang sering membawa kendaraannya dengan seruduk sana seruduk sini tanpa memikirkan kenyamanan orang lain, karena mengejar setoran yang ditargetkan oleh bos mereka.[Mas Abdi]