Juli 23, 2010

nantikan, mirip video artis

Media adalah perusahaan. Dalam kondisi sekarang, media tidak lagi dipandang sebagai lembaga yang berdiri atas kebutuhan informasi khalayak. Sebaliknya, media adalah mesin produksi yang ditujukan untuk peraihan kepentingan ekonomi dan politik, sehingga para awak media pun sibuk “menyutradarai” konstruksi-konstruksi realitas yang akan disajikan layar kaca.


Dalam suasana itulah kasus video porno yang diduga dimainkan Ariel “Peterpan”, Luna Maya, dan Cut Tari, menyeruak di antara tema-tema lain. Media telah tergoda untuk mempertaruhkan objektivitas dan kearifannya demi rating dan share. Dan dalam konteks itulah, buku Video Mirip Artis menjumpai Anda.


Buku Mirip Video Artis bukan sekadar memberondong kekeliruan-kekeliruan media televisi dalam memilih tema dan mengemas isu tersebut yang laksana program infotainment. Tapi, buku ini pun mengilasbalik “kesakralan”: tradisi komunikasi, dengan metafora media dan agenda setting-nya; etika komunikasi dan kearifan media; teknik peliputan dan produksi berita televisi; hingga analisis isi media.


Poin akhir buku Mirip Video Artis adalah kearifan media untuk memperlihatkan kembali jati dirinya dan kecerdasan khalayak untuk menyikapi pesan media. Bila media dinilai tidak lagi objektif, lantas bagaimana dengan program infotainment?


Saatnya untuk menyelami halaman demi halaman buku ini sambil bersiap-siap untuk menyikapi persoalan-persoalan pertelevisian di Tanah air secara bijak. Tunggu kehadirannya.[]

Juni 28, 2010

pesta buku JAKARTA 2010


Dapatkan buku
Gado-Gado Sang Jurnalis:
Rundown Wartawan Ecek-Ecek
(Discount 30%)
dan
Memotret Khatulistiwa
(Discount 10%)
di Pesta Buku Jakarta 2010 di Istora Gelora Bung Karno Senayan
Stand Gramata Publishing (No. 49) Ruang Kenanga, 2-11 Juli 2010.

April 29, 2010

menulis butuh tahu dan berani

Untuk Luh Putu Ernila Utami di Bali,

Aku tidak menulis makalah saat aku membawakan sesi soal menulis itu. Minggu lalu, aku mulanya mengira sesi itu akan dilakukan dengan format kecil, 10-15 orang, dengan diskusi hangat dan suasana temaram. Ternyata pesertanya 40-an orang dengan ruang besar, meja raksasa, kursi berlengan, serta kebisingan jalan tol.

Intinya, aku cuma mengajak para peserta, para aktivis itu, berpikir ulang soal bagaimana mereka bisa menulis yang menarik sekaligus mendalam.

Aku tahu banyak dari kalian punya pengalaman dahsyat. Dari bikin demonstrasi anti kabel listrik voltage tinggi hingga pemogokan angkutan umum. Dari Bali sampai Maumere, dari Salatiga sampai Makassar. Ini semua bahan-bahan menarik untuk diceritakan.

Kalian melawan polisi. Kalian melawan bupati. Kalian melawan partai. Kalian bahkan ada yang melawan negara. Aduh, itu cerita berminyak untuk ditulis gurih dan diceritakan renyah untuk orang lain. Pramoedya Ananta Toer dalam Khotbah dari Jalan Hidup mengatakan, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."

Ada dua syarat sederhana bila kau ingin ingin "bekerja untuk keabadian": kau harus tahu dan kau harus berani.

Kau harus benar-benar menguasai isu yang kau tulis. Janganlah kau menulis soal "peningkatan sumber daya manusia dan ekonomi masyarakat" atau "globalisasi dalam kaitannya dengan Pancasila serta Islam" dan sebagainya. Kata-kata itu cuma jargon.

Kau jangan membebek orang lain menulis. Mereka sok pinter. Mereka sering tak tahu perdebatan-perdebatan yang sudah dilakukan orang-orang macam Michael Sandel dan Thomas Friedman soal globalisasi. Mereka tak tahu kebohongan Muh. Yamin atau Nugroho Notosusanto dengan apa yang dinamakan Pancasila. Ada ratusan teori soal demokrasi dan mereka belum baca tuntas semuanya. Pakai kata-kata sederhana. Kalimat pendek-pendek.

Lebih baik kau tulis masalah sehari-hari. Penyair Widji Thukul menulis masalah sehari-hari bila memulai syairnya. "Tadinya aku pengin bilang: aku butuh rumah tapi lantas kuganti dengan kalimat: setiap orang butuh tanah. Ingat: setiap orang!" tulis Thukul dalam Tentang Sebuah Gerakan.

Sederhana sekali.

Kalau kau mau "tahu" maka kau harus bikin riset. Kau harus baca buku. Kau harus wawancara orang. Minta izin bila hendak mengutip omongan orang. Harus jujur. Harus transparan. Kau tulis masalah listrik naik di subak kau. Kau tulis soal kesulitan tetangga kau si tukang jahit. Kau tulis tentang orang-orang biasa. Esensi jurnalisme adalah verifikasi. Semua keterangan itu harus kau saring. Carilah kebenaran.

Mulailah dari hal kecil. Kelak tanpa sadar kau akan baca makin banyak buku. Kau akan wawancara ribuan orang. Kelak tanpa sadar kau bisa menulis soal kebohongan dan kejahatan para petinggi negeri kita.

Tetapi "tahu" saja tidak cukup. Kau harus punya keberanian, punya nyali untuk menyatakan pikiran kau. Pramoedya dan Thukul adalah orang berani. Pram dipenjara Belanda, Soekarno dan Soeharto. Perpustakaan Pram dibakar tentara. Bukunya habis. Kupingnya budek gara-gara hajaran serdadu. Thukul bahkan diculik dan hilang hingga hari ini.

Mereka tahu kesusahan si tukang jahit atau si jongos. Mereka berani pula menulis untuk membela si kecil.

Menulis adalah "laku moral." Kita bicara soal kebenaran. Kau harus berani menyatakan kebenaran. Aku kenal banyak wartawan di ibukota negeri ini. Mereka tahu soal kebusukan petinggi negeri ini. Mereka tahu redaktur mereka mulai sering ditelepon bedinde-bedinde si petinggi. Kok nulis ini? Kok nulis itu? Tapi mereka tak punya keberanian. Mereka takut bisnis mereka terganggu. Maka "himbauan" si bedinde diikuti.

Akibatnya, banyak cerita di belakang layar yang tak ditulis di negeri ini. Kau maklum saja. Mereka tak punya keberanian macam Pram atau Thukul. Mereka lebih takut ditegur redakturnya. Mereka ketakutan macam anjing sembunyi ekor di balik pantat.

Jadi, kalau kau mau menulis, hanya dua syarat sederhana. Kau harus tahu sekecil apapun yang kau tulis. Kau harus berani.

Itulah inti dari sesi pelajaran menulis di Jakarta minggu lalu. Aku harap surat kecil ini membantu kau memahaminya. Terima kasih karena kau sudah rela sedia tenaga mengambil makanan untuk rekan-rekan kau.[andreas harsono]