November 13, 2009

prolog gado-gado sang jurnalis

Buku ini laksana rundown sebuah program berita menjadi segmen per segmen. Segmen pertama menguraikan sepenggal perjalanan hidup yang berkaitan dengan profesi jurnalis televisi. Dari sekedar gila menonton televisi hingga menjadi mahasiswa. Selain mencoba membangun inspirasi dan kebanggaan akan profesi kewartawanan, segmen itu pun menguraikan sejumlah pengetahuan Dasar-Dasar Jurnalistik, Filosofi dan Sejarah Profesi Kewartawanan, Manajemen Media Massa, dan Penulisan Berita.

Segmen dua dan tiga makin fokus pada persiapan menekuni profesi jurnalis televisi dan aspek-aspek di dalam lingkungan televisi. Dari menguraikan pengetahuan tentang persiapan peliputan untuk jurnalistik televisi hingga mengenal profesi-profesi khusus di lingkungan Divisi Pemberitaan. Dalam segmen tiga, buku ini akan mengajak Anda memasuki kavling-kavling penggarapan berita televisi menurut bidang masalahnya. Jika dibuat komposisi, sekitar 70% uraian mengungkap praktik serta sisanya berisikan teori dan hal-hal remen-temeh lainnya.

Segmen terakhir, buku ini akan memaparkan sisi jurnalis televisi yang back to the jungle alias balik kanan ke kantor. Segmen ini mengupas teori ideal dan praktik pekerjaan sebagai produser, plus perkembangan tren jurnalistik televisi terbaru. Selain “booming” program infotainment yang mengalahkan pamor program berita, perkembangan manajemen media massa termutakhir, hingga masa depan yang harus dibangun sang jurnalis televisi saat bintangnya meredup.

Jadi, terasa kan cita rasa “gado-gado”nya?

Bisa jadi gaya penulisan buku ini dianggap ecek-ecek, karena ditulis oleh seorang yang menganggap dirinya sebagai jurnalis televisi yang ecek-ecek, meski sejatinya buku ini menyuguhkan "sesuatu" yang sulit dipandang ecek-ecek. Karena dari serangkaian cerita gado-gado yang dibuat penulisnya, Anda akan dibawa untuk menentukan bagian-bagian yang penting dalam jurnalistik dari sekian lama petualangan penulisnya sebagai jurnalis.

Atau justru Anda menjadi salah satu yang berani menyatakan bahwa buku ini ecek-ecek? BACA DULU![GGsj: rWEE]

November 03, 2009

"dagelan" hukum di mahkamah konstitusi

Rakyat Indonesia dibuat terpana dengan "dagelan" yang ditayangkan langsung oleh sejumlah televisi swasta dari Gedung Mahkamah Konstitusi, Selasa (3/11). Ratusan orang melihat langsung sidang terbuka yang memperdengarkan rekaman percakapan telepon seluler Anggodo Widjojo dengan sejumlah pejabat kepolisian dan kejaksaan.

Rekaman itu dengan vulgar menyebut bagaimana merancang kasus hingga tawar-menawar imbalan kepada pihak-pihak yang diduga ikut merekayasa. Sejumlah tokoh masyarakat hingga aktivis 1998 berdatangan ke Gedung Mahkamah Konstitusi (MK).

"Saya ngeri sekaligus kaget, betapa proses peradilan di negara ini bisa didikte Anggodo. Ini menunjukkan mafia peradilan kuat menguasai lembaga penegak hukum kita," kata Teten Masduki, Sekretaris Jenderal Transparansi Internasional Indonesia, di Gedung MK.

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar juga terlihat kaget dengan fakta yang dipaparkan secara vulgar dalam rekaman. Beberapa kali ia keluar-masuk ruang sidang MK. "Saya kira rekaman ini bagus dibuka untuk umum. Jangan sampai ada sesuatu yang ditutup-tutupi," kata Patrialis.

Adnan Buyung Nasution dan para anggota lain Tim Independen Klarifikasi Fakta dan Proses Hukum Kasus Bibit-Chandra beberapa kali terlihat tak kuasa menahan senyum. Apalagi ketika terjadi perdebatan tentang jumlah honor yang harus dibayar kepada para pihak yang ikut merancang.

Di luar gedung sidang, sejumlah pengunjung sidang pun berkali-kali dibuat terpana dan tertawa dengan dialog vulgar dan terkadang lucu antara Anggodo dan berbagai pihak. "Saya takutnya kita disadap nih, Pak," kata seseorang yang diduga Ketut Sudiarsa, Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, kepada Anggodo, contoh isi rekaman yang membikin geli.

Di kawasan Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, Suryo (42), karyawan swasta, mengaku tak sempat menyimak televisi yang menayangkan sidang di MK. Namun, ia mengetahui sebagian isi rekaman yang diperdengarkan dari penuturan sejumlah rekan. Dengan kesal, ia berkomentar, "Terhina banget rasanya jadi rakyat. Pejabat-pejabat publik kita begitu gampang dibeli!"

Di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, sidang perkara pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen sedang digelar. Namun, pegawai Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang sedang tidak bertugas terlihat menyaksikan siaran langsung sidang di MK dari salah satu stasiun televisi.

Di Kejaksaan Agung, suasananya juga seru. Pegawai di Pusat Penerangan Hukum Kejagung, misalnya, menyimak pemutaran rekaman di MK. Begitu juga jaksa-jaksa di Gedung Bundar Kejagung, menyaksikan siaran televisi.

Berharap Presiden

Antusiasme sekaligus kegeraman masyarakat menyimak rekaman yang diputar di MK juga tecermin dari puluhan wartawan yang mengerumuni televisi di ruang pers Istana Kepresidenan, Jakarta.

Meskipun agenda kegiatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang akan diliput sudah selesai sekitar pukul 14.00, para wartawan masih berkumpul di ruang pers Istana Kepresidenan hingga usai penayangan sidang MK di televisi. Sebagian dari mereka juga berharap Presiden akan memberikan komentar atau mengambil kebijakan yang signifikan seusai menyimak pemutaran rekaman.

Wakil Presiden Boediono nyaris tidak menonton sidang di MK. Kebetulan, agenda Boediono memang padat. Mulai pukul 11.30, ia menerima pimpinan Badan Pemeriksa Keuangan yang dipimpin Hadi Purnomo. "Setelah itu langsung memimpin rapat bersama tiga menteri koordinator untuk menindaklajuti program kerja 100 hari dan lima tahun," ujar Staf Khusus Wapres Bidang Media Massa Yopie Hidayat.

Namun, sebelum rapat bersama tiga menko dimulai, Menko Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto sempat berkomentar, "Wah, kita harus rapat, ya. Seharusnya kita bisa menonton dulu tayangan rekaman pembicaraan di televisi."

Mendengar komentar tersebut, Menko Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono dan Menko Perekonomian Hatta Rajasa terlihat hanya senyum-senyum saja. (DAY/HAR/IDR/AIK) --http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/04/03385571/dagelan.hukum.di..mahkamah.konstitusi

gonjang-ganjing di tv swasta kita

Sungguh situasi yang saya bayangkan tidak nyaman. Kebersamaan sebagai ciri khas kerja jurnalistik pastinya sudah tak ada lagi di sana. Tangan kekuasaan kemudian mengubah semuanya, mulai dari kebiasaan kerja, perombakan tim, hingga format siaran. Pemred kemudian dipegang langsung sang pemilik modal.

Bagi pemirsa, seperti yang saya rasakan, layar Liputan 6 kemudian tak lagi secantik dan sedinamis dulu. Tak ada gaya siaran Bayu Sutiono yang penuh greget, tak ada lagi gaya tegas Rosi saat talk show. Bahkan momen Pemilu dan Pilpres yang biasanya menjadi kekuatan SCTV, berlalu begitu saja, tanpa sesuatu yang spesial.

Bagi pemirsa dan dunia jurnalistik TV, ini kemunduran. Suka tak suka Liputan 6 SCTV adalah sebuah ikon berita TV di Indonesia. Saya tahu persis mereka membangun kejayaan dari bawah, dari kondisi yang amat sangat pahit dengan sokongan dana yang minim di awal pendirian Liputan 6.

Perlahan dengan kerja kerasnya, Liputan 6 kemudian menancapkan tajinya. Bahkan menjadi acuan serta rujukan banyak kalangan, termasuk para pengambil keputusan di negeri ini.

Kebesaran Liputan 6 dibangun dengan mengedepankan kapabilitas dan kredibilitas, sesuai dengan motonya Aktual, Tajam, Terpercaya.

Saya sendiri tak tahu pasti ada apa di internal SCTV sehingga harus mem-phk karyawan sebanyak itu. Apakah ini karena imbas krisis keuangan Amerika? Saya kok tak terlalu percaya. Karena setahu saya, kondisi keuangan stasiun TV ini lumayan sehat dibandingkan beberapa stasiun TV yang lain. Ataukah ini cara perusahaan mengurangi SDM tetap dengan memperbanyak karyawan kontrak? Entahlah?

Situasi berbeda tampaknya juga dialami 2 stasiun TV lainnya. TPI sedang menunggu putusan kasasi kasus Pailit yang diajukan Crown Capital. Sementara kabar gonjang-ganjing lainnya datang dari stasiun tv milik Bakrie, Antv. Kabarnya mereka menghadapi situasi serupa dengan Sctv pasca hengkangnya raksasa media Rupert Murdoch selepas lebaran lalu.[Syaifuddin's Blog]

Artikel Terkait:
last man standing in liputan 6 sctv