Oktober 31, 2009

andy f noya, sang pemimpin redaksi metro tv


Pernah menonton acara K!ck Andy? Sebuah tayangan talk show yang menyuguhkan begitu banyak informasi kepada para pemirsanya. Sebuah acara yang digagas oleh Adjie S. Soeratmadjie dan dibawakan langsung oleh sang pemimimpin redaksi ; Andy F Noya.

Bagi saya yang notabenenya adalah penggila talk show, acara K!ck Andy adalah salah satu acara favorit, mendidik yang pasti. Pada awalnya , saya sangat penasaran, siapakah pembawa acara ini? Rasanya belum pernah saya dengar nama Andy F Noya mungkin saya yang katrok kali ya? Memanfaatkan mbah google, sangat gampang mencari sejarah seorang yang udah terkenal. selain ada di bagian profile websitenya, saya juga menemukannya disini, ini adalah kutipan wawancaranya :

Secara umum orang mengenal Anda hanya sebagai Pemimpin Redaksi Metro TV. Dapatkah diceritakan bagaimana masa kecil Anda?
Saya terlahir dari keluarga yang ekonominya pas-pasan. Bapak saya seorang servis mesin ketik, ibu tukang jahit. Saya masih ingat, ketika mau membantu bapak menyervis mesin ketik, dia berkata, jangan kamu sentuh mesin ini. Saya sadar ternyata dia tidak mau anaknya menjadi tukang servis mesin ketik. Waktu Sekolah Dasar, saya sempat sekolah di Malang, kemudian ikut bapak ke Papua. Saya tinggal di Papua sampai kelas dua Sekolah Teknik Menengah (STM), terus pindah ke Jakarta, sekolah di STM 6 Keramat.

Kok bisa pindah ke Papua?
Bapak bekerja di sana. Perlahan-lahan bapak mulai banyak mendapat pesanan memperbaiki mesin ketik kantor. Setelah ekonomi sedikit mapan dan membaik, ibu, kakak dan saya menyusul ke Papua. Enam tahun saya tinggal di Papua.
Anda anak bungsu dari lima bersaudara, apakah Anda anak manja?
Sebaliknya, saya anak yang paling keras dan pembangkang. Waktu kecil saya sering tidak pulang ke rumah, ikut mencuri mangga dan burung dara, terus dijual. Kalau tak dikasih uang, kaca-kaca rumah pecah. Kakak-kakak saya mengira, kalau sudah besar nanti saya akan menjadi penjahat.

Sebenarnya apa sih harapan orang tua terhadap diri Anda?
Bapak menginginkan saya menjadi orang teknik, karena dia berasal dari teknik. Dengan harapan saya bisa lebih sukses dari dirinya. Begitu juga harapan saya terhadap anak-anak saya, saya menginginkan anak saya ada yang menjadi wartawan. Tapi tidak ada yang mau, malah pada sekolah desain grafis.

Dari sisi pria, apakah Anda termasuk pria romantis?
Romantis tidak, genit iya. Untung saya menikah dengan perempuan yang bisa memahami saya. Saya tidak bisa melihat perempuan cantik. Istri sering mengatakan bahwa saya adalah suami dan bapak yang baik, tapi sulit dikontrol. Artinya tak tahan melihat perempuan cantik.

Dari sisi perasaan, saya pria yang suka berbicara dengan hati, ketimbang dengan pikiran. Saya mudah tersentuh, apalagi melihat orang susah. Ini mungkin karena pengalaman hidup saya yang berasal dari orang susah. Saya pernah melihat orang tua menjual pisang. Karena kasihan, pisangnya saya bell semuanya. Istri saya protes, saya katakan kamu tidak pernah miskin, maka kamu tidak tahu bagaimana pahitnya menjadi orang miskin.
Anda mengaku sebagai pria genit. Sebagai pria genit Anda tentu punya pandangan tentang wanita. Seperti apa wanita seksi menurut Anda?
Wanita seksi adalah wanita yang cerdas. Saya tidak suka wanita cantik tapi tolol, selera langsung hilang. Wanita kurang cantik tapi pintar, itu baru menggoda.

Sebagai pemimpin media, Anda pasti sibuk. Apa yang Anda lakukan di waktu senggang?
Menonton dan membaca buku. Untuk musik, saya suka musik jazz. Setiap ada pagelaran jazz saya usahakan datang. Sabtu dan Minggu saya gunakan untuk `pacaran’ bersama istri dan jalan bersama anak-istri.

Buku jenis apa yang Anda sukai?
Apa saja, saya suka membaca buku manajemen, politik, sejarah dan sastra. Pada dasarnya saya suka membaca.

Anda dikenal wartawan ahli lobi. Dalam berinteraksi dengan narasumber, apakah Anda sering mengikuti gaya hidup mereka?
Tidak juga. Saya diakui sebagai orang yang kuat dalam melobi. Saya dekat sama semua narasumber, tapi tidak terlalu dekat, sampai main golf atau karaoke bersama. Apa yang tidak saya suka, saya katakan tidak suka. Saya ingin menjadi diri sendiri, saya tidak ingin menjadi orang lain.

Sehari-hari, Anda suka berpenampilan seperti apa?
Sebenarnya saya agak selebor. Ini rapi karena sedang bekerja saja. Hari Minggu saya suka memakai celana pendek dan sepatu sandal. Waktu kuliah, penampilan saya sangat selebor, kaos, jeans sobek, sepatu butut dan rambut kribo. Kribonya tidak seperti sekarang, lebih tebal.

Ritme hidup Anda cukup menarik. Bisa ceritakan kenapa Anda tertarik pada mengga dunia jurnalistik?
Semenjak SD saya sudah suka mengarang dan melukis. Sampai-sampai hasil lukisan saya dipajang di ruangan guru. Di Sekolah Teknik Negeri (setara Sekolah Menengah Pertama-Red), saya sempat beberapa kali juarai lomba karikatur. Saat duduk di STM, saya juara tiga lomba mengarang tingkat SMA se-Papua. Saya juga lulusan terbaik dan mendapat beasiswa untuk sekolah guru di Padang. Tapi setelah saya berpikir-pikir, jadi guru bukan cita-cita saya, maka jatah beasiswa saya kasih ke kelulusan terbaik nomor dua.

Suatu hari saya membaca artikel di sebuah majalah remaja tentang sekolah wartawan yaitu STP. Saya tertarik, kemudian saya melamar ke STP.

Orang tua Anda tahu bakat yang Anda miliki?
Tahu, tapi kan orang tua saya orang miskin. Dia memasukkan saya ke sekolah teknik, dengan harapan setelah lulus bisa langsung bekerja. Saya sadar kemampuan ekonomi orang tua saya terbatas.

Setelah lulus STM Anda hijrah ke Jakarta dan kuliah di STP. Di Jakarta dengan siapa Anda tinggal?
Sama kakak. Setiap pagi sebelum pergi kuliah, kerja saya memandikan keponakan dan mengantarkannya sekolah. Usai mengantar sekolah, saya mencuci piring dan membersihkan rumah. Namanya saja numpang, walaupun tak disuruh saya harus tahu diri. Malu sama kakak ipar. Siangnya saya menjemput keponakan dari sekolah. Setelah itu baru berangkat kuliah.

Berhubung saya tidak sanggup beli buku, saya nongkrong di perpustakaan, mencatat semua bahan-bahan kuliah. Saya jarang memfoto kopi buku, sampai-sampai penjaga perpustakaan bilang, difoto kopi saja mas. Saya jawab tidak usah, cuma sedikit kok. Dari sini saya mulai menghemat uang. Makan siang saja cumau makan gado-gado Rp. 500. Kalau naik angkot saya berharap bertemu teman, dengan harapan dibayarin. Dan saya paling senang kalau diajak ulang tahun, lumayan makan gratis.

Lulus dari STP Anda langsung bekerja menjadi wartawan?
Waktu tingkat tiga, tahun 1984, secara tidak sengaja saya melihat pengumuman lowongan kerja menjadi reporter buku Apa & Siapa terbitan Grafiti Press, anak perusahaan majalah Tempo. Saya iseng ikut mengantarkan teman melamar. Setelah itu saya malah jadi ikut melamar dan tes. Ternyata lulus, saya langsung disuruh bekerja. Saya dipanggil kerja tanggal 6 November bertepatan dengan hari ulang tahun saya. Di sini saya berkenalan dengan Rahman Tolleng, mantan Pemimpin Redaksi Suara Karya.

Setelah menjadi wartawan siapa tokoh yang pertama kali Anda wawancarai?
Sofyan Wanandi. Sofyan Wanandi inilah yang membuka akses ke pengusaha-pengusaha lain, di antaranya Liem Sie Liong. Waktu itu sangat sulit menemui pengusaha. Setiap bulan saya harus mewawancarai 12 tokoh.

Berapa honor yang Anda peroleh?
Satu tulisan profil Rp. 10.000. Waktu itu saya yang paling rajin. Tiap liputan saya naik angkot, pakai kaos oblong, celana jeans robek, dan sepatu butut. Dengan harapan kondektur tidak meminta ongkos. Biasanya melihat gaya seperti ini kondektur malas nagih ongkos, kalau diminta saya naik mobil satunya lagi.

Dilihat dari karier, Anda dibesarkan dari media cetak, bagaimana ceritanya bisa beralih ke elektronik?
Suatu hari saya berjalan bersama bapak Surya Paloh, dan. agar pembicaraan lebih leluasa, bapak Surya Paloh meminta saya untuk menyetirkan mobilnya, sementara mobil saya dibawa oleh supir bapak Surya Paloh. Saya katakan pada bapak Surya Paloh, saya sudah bosan bekerja di media cetak, saya mau pindah ke televisi. Pasalnya, waktu itu ada yang menawarkan saya untuk bekerja di televisi. Tapi orang yang menawarkan itu tidak berani ngomong langsung sama bapak Surya, takut karena dia sahabat bapak Surya Paloh. Dia menyarankan saya untuk berhenti dulu, setelah itu baru bergabung.

Terus bapak Surya bertanya, kamu mau pindah ke mana? Saya jawab, saya mau ke RCTI. Lalu bapak Surya bilang, kamu tidak usah pindah ke RCTI, saya akan membuat televisi sendiri. Untuk sementara, sebelum Metro TV jadi kamu boleh bergabung dengan RCTI. Nanti setelah Metro TV jadi, kamu harus kembali bekerja sama saya.

Singkat cerita, sekitar akhir tahun 1999, ada seseorang menelepon saya. Dia mengatakan, untuk membuat satu stasiun televisi cukup dengan modal Rp. 3 milyar. Saya langsung menelepon bapak Surya Paloh. Bapak Surya menyuruh saya mempertemukan dengan orang tersebut. Hasil pembicaraan memutuskan, jadi membuat Metro TV. Tujuh bulan memimpin RCTI, bapak Surya menelepon saya, surat izin Metro TV sudah selesai, saya diminta untuk kembali dan memimpin Metro TV.

Hebat, pendekatan apa yang Anda lakukan sehingga pengusaha-pengusaha media begitu percaya sama Anda?
Semuanya tak lebih dari minat. Minat berhubungan dengan prestasi. Bagi saya, tugas bukanlah beban, semakin banyak tugas yang diberikan, saya semakin bersemangat. Kerja adalah rekreasi. Kadang-kadang saya sampai lupa jam, tahu-tahu sudah jam 03.00 pagi.

20 tahun lebih Anda menjadi wartawan, prestasi apa yang telah Anda capai selama menjadi wartawan?
Prestasi saya lebih pada kepemimpinan, Saya mempunyai kemampuan memenit orang. Saya tidak punya prestasi jurnalistik. Waktu di majalah Matra saya pernah meliput tentang prostitusi yang melibatkan selebriti. Untuk mendapatkan data tentang bisnis prostitusi, saya membayar kaki tangan seorang germo. Saya memperoleh sejumlah nama selebriti, lengkap dengan nomor telepon dan tarif. Sampai saya didemo karena germonya seorang pengusaha kayu.

Walau tidak punya prestasi, tapi pernah mengalami intimidasi?
Saya sering didemo dan mendapat surat kaleng, apalagi setelah menjadi pembawa acara Kick Andy. Beberapa bulan yang lalu ketika Kick Andy mengangkat tema “Pelajar Eks PKI”, saya dituduh PKI.

Punya pengalaman jurnalistik yang sulit dilupakan?
Ketika meliput ke daerah pedalaman Papua. Saya naik pesawat kecil yang kena angin saja oleng. Jangankan naik pesawat kecil, naik pesawat besar pun saya takut. Saya takut pesawat menabrak bukit karena pesawat kecil tidak bisa lebih tinggi dari gunung. Alhasil pesawat terbang di antara sela-sela bukit dan gunung.

Anda lebih dikenal orang di belakang layar. Bagaimana perasaan Anda saat tampil di acara Kick Andy?
Saya ini tipe orang pemalu. Sebenarnya saya tidak mau menjadi pembawa acara Kick Andy, tapi bapak Surya memaksa saya. Katanya saya punya talenta dan punya seni bertanya, tajam tapi tidak menyakiti orang. Waktu di RCTI saya pernah mewawancarai Wiranto. Saya bertanya seputar kerusuhan. Pertanyaan saya sangat tajam tapi dia tidak tersinggung. Pak Surya menginginkan saya seperti Larry King. Dari sinidibuatlah program untuk saya, jadilah KickAndy. Formatnya seperti Oprah Winfrey.

Siapa tokoh yang pertama kali tampil di Kick Andy?
Warsito Sanyoto. Orangnya unik dan perfeksionis. Saat acara berlangsung, tiba-tiba dia mau pulang, acara dianggap tidak sesuai dengan keinginannya. Dia marah-marah, karena semua profilnya akan ditayangkan.

Sebagai wartawan senior, Anda pasti tahu tentang perkembangan media massa. Bagaimana pandangan Anda tentang media massa sekarang?
Pedih. Sekarang tanpa SIUP orang bisa membuat koran. Orang yang tidak punya panggilan jiwa di bidang ini akan menerbitkan media massa sesuai dengan keinginan, terbitlah media-media porno.

Sekarang siapa saja bisa menjadi wartawan. Tinggal dikasih kartu wartawan, jadi wartawan. Akibatnya terjadilah pemerasan. Tidak itu saja, pers juga menjadi tidak netral, partai-partai membuat media untuk mendukung partai atau orang yang dicalonkan partai. Kondisi ini membuat dunia jurnalistik menjadi buruk. Ini menjadi tantangan bagi pers yang benar. Saran saya, jangan menggunakan kebebasan secara absolut.

Anda menentang keberpihakan, sementara Metro TV adalah milik Ketua Dewan Penasehat Golkar, itu bagaimana?
Itu bagian yang harus diterima. Ujian yang paling berat ketika Surya Paloh terjun ke konvensi Golkar, mencalonkan diri sebagai presiden. Sempat terjadi perdebatan antara pekerja profesional (karyawan Metro TV dan Media Indonesia-Red) dan tim sukses Surya Paloh. Agar tak terseret menjadi alat kepenting an golongan, kita membuat koridor dan membuat kesepakatan antara tim sukses dan para pekerja profesional.

Bisa dikatakan Metro TV adalah televisi berita, sementara masyarakat masih suka program hiburan, bagaimana Anda menghadapi tantangan ini?
Ketika Metro TV memutuskan diri menjadi televisi berita, banyak orang tertawa, dianggap bodoh dan tidak akan bertahan lama. Selama ini konsep orang membeli televisi adalah membeli hiburan, bukan berita. Berita hanya bagian dari program. Rating berita selalu kalah oleh sinetron. Saya katakan tidak, Metro TV akan bertahan lama dan sukses. Di Indonesia belum ada televisi seperti CNN. Dan kita tidak punya pengalaman di bidang hiburan.

Memang betul, di tahun-tahun awal adalah tahun penuh penderitaan, semua biro iklan enggan memasang iklan di Metro TV. Mereka selalu berpatokan pada rating. Untuk meyakinkan biro iklan memang susah. Usaha yang kita lakukan adalah melakukan pendekatan langsung kepada pemilik produk. Kita katakan, untuk jualan memang harus memasang iklan di televisi lain, tapi untuk image tidak ada televisi kecuali Metro TV.

Terbukti, sekarang pola pikir penonton sudah berubah, berita sudah menjadi tontonan penting. Akhirnya banyak stasiun televisi membeli mobil satelit dan membenahi program berita, merekrut wartawan dan presenter baru.

Menurut Anda, bagaimana tingkat kompetisi antara industri televisi?
Tinggi sekali. Persaingan semakin ketat, porsi iklan semakin terbatas. Untuk meningkatkan rating, apa saja dilakukan. Akibatnya muncul tayangan seks dan mistik. Dalam persaingan, kecenderungan lepas kontrol itu tinggi sekali.

Siapakah orang yang paling berpengaruh dalam hidup Anda?
Rahman Tolleng, dia orang pertama yang memotivasi saya untuk maju. Dia sering memuji, kalau nanti saya bakal jadi wartawan bagus. Dia bilang, cara saya menulis dan reportase cukup bagus. Mendengar itu, saya jadi tambah bersemangat. Kedua, Lukman Setiawan. Dia yang merekrut saya untuk bergabung dengan Koran Bisnis Indonesia. Walaupun saya belum sarjana, tapi dia bilang saya sudah layak dan tidak masalah. Ketiga, Amir Daud, Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia. Dia mengajari saya tentang moral dan merubah penampilan saya menjadi lebih rapi. Dulu penampilan saya selebor, mirip Ali Topan. Bahkan waktu itu saya belum memakai kaos kaki, ha… ha… ha!

Kemudian saya masuk ke majalah Matra. Di situ saya bertemu Fikri Jufri. Dia mengajarkan saya tentang lobi, Fikri Jufri adalah seorang ahli lobi. Fikri jufri memperkenalkan saya dengan orang-orang terkenal. Mungkin karena saya lahir dari keluarga kelas bawah, saya memiliki sifat minder dan sedikit introvert. Dengan profesi jurnalis, Fikri Jufri merubah pola pikir dan penampilan saya sehingga berani tampil di kalangan jetsetter.

Mereka ini adalah orang-orang yang paling berjasa dalam merintis karier saya. Kemudian yang terakhir adalah Surya Paloh. Dia membimbing saya untuk bemengambil keputusan. Banyak hal yang sulit dicerna akal sehat dan logika, tapi di tangan Surya Paloh banyak hal jadi bisa dicerna. Tidak ada kata yang tak mungkin baginya.

Surya Paloh tipikal orang demokratis. Saya sering beradu argumen dengannya. Pola ini saya ajarkan di sini, jadi tidak ada keputusan bersifat absolut. Reporter atau siapa saja, bisa mengeluarkan pendapat. Intinya, ide itu bisa datang dari siapa saja. Dan yang lebih penting, jangan biarkan ide mati di atas meja. Biarkan ide tumbuh dan berkembang. Itulah nilai-nilai yang saya pelajari dari grup ini.

Saat ini, bisa dibilang karier Anda di media massa sudah berada di posisi puncak. Apakah Anda masih memiliki obsesi lain?
Saya ingin jadi pemilik, ha… ha… ha. Banyak orang berpikir kalau sudah berada di posisi puncak sulit untuk mulai menekuni bidang lain. Saya mungkin termasuk orang yang berpikir seperti ini. Ada waktunya untuk enough is enough. Tapi dunia ini (jurnalistik-Red) tidak bisa saya tinggalkan.

Kalau saya ngotot tetap mau seperti ini, kasihan nanti anak-anak muda, tidak bisa tumbuh dan menggantikan saya.
Sebenarnya saya sudah pernah pamit kepada bapak Surya untuk menekuni bisnis sendiri. Tapi karena waktu pamitan Pemimpin Redaksi Metro TV keluar, akhirnya dia meminta saya untuk jangan pergi dulu. Cita-citaku memang ingin memiliki bisnis sendiri. Bisnis di bidang yang sama. Misalnya, punya majalah atau tabloid kecil-kecilan. Mungkin jurnalistik adalah dunia yang akan kutekuni sampai mati.

Pertanyaan terakhir, ada yang mengatakan kalau mau kaya jangan menjadi wartawan, Anda setuju?
Setuju, jadi wartawan memang tidak bisa kaya. Kalau mau kaya jadi pengusaha atau pemilik media. Sempat terbetik di pikiran, satu hari harus berhenti menjadi wartawan. Tapi apa boleh buat, saya senang menjadi wartawan, wartawan itu adalah hobi yang dibayar. Saya sering mengatakan kepada istri, saya ini bukan pergi bekerja tapi pergi berekreasi, pulangnya dibayar.[ilham saibi blog]

konglomerat langsat


Aku itu kuaget 1/2 kuoit, ketika dapat undangan untuk menggemari langsungenak.com, di Facebook dari Nona Dita. "Apalagi ini?", pikirku dalam hati.

Aaarghhh... rupanya, mainan baru dari Langsat. Ck... ck... Hebat!!! Bener-bener spikles aku.

Semenjak membuat rumah blogger Indonesia, dagdigdug.com pelan-pelan memiliki banyak sahabat, sebut saja:

  1. Cerpenista.Com tempat Mengarang Gotong Royong
  2. Politikana.Com tempat diskusi Politik dan Demokrasi
  3. Ngerumpi.Com tempat ngerumpi yang Pakai hati, Tidak menyakiti
  4. CuriPandang.Com tempat Ngomongin Artis dan Entertainment
  5. Publikana.Com tempat memberikan Kesaksian dan Pengalaman dan
  6. LangsungEnak.Com tempat berbagi selera dan pengalaman kuliner
  7. dan...
  8. terus..., mungkin
  9. entahapalagi.com

Pernah main ke Langsat, mencicipi enaknya penganan di Wetiga.Com? Sembari menyimak diskusi para pakar Sawah Ladang Maya disitu. Aku pernah! Dan pernah nguping omongan Pak Didi Nugraha, bahwa di masa krisis, bisnis online termasuk bisnis tangguh yang mampu untuk bertahan dan bahkan berkembang. Dan ucapan itu bukan sekadar nasihat kepada para blogger muda yang hadir waktu itu. He did it...! Bersama Paman Tyo dan Enda Nasution dan kawan-kawan lainnya, bener-bener melakukannya. Gerrrr!!!!

Dari bisik-bisik dengan para blogger malam itu, aku sempat kepikiran, "Jangan-jangan di masa depan, Indonesia ditentukan dari Langsat?" Mungkin hanya pikiran absurd, tetapi kemungkinan ke arah itu ada.

Jadi, imho, bukan hanya sekadar bisnis yang mampu bertahan di kala krisis, namun lebih dari itu bisnis Online dari Langsat ini mulai menggurita, layaknya Konglomerasi. Jadi bukan mustahil, Opini-opini penting Negara dapat diluncurkan dari sini, dari Langsat.

(Berbahagialah anda telah register di salah satunya... karena berkesempatan memercik Opini dan Pendapat itu. hehehe...)

*halah... ini katanya spikles, kok panjang? entahlah... satu hal, Aku kagum, itu saja. Tabik...![kang tutur]

polisi internet perlukah?


PRC (People's Republic of China - Republik Rakyat Cina), satu-satunya negara yang memiliki lebih dari 600.000 personil yang disebut "polisi internet", meskipun keberadaan para "polisi internet" ini tidak pernah dikonfirmasikan, tetapi aksi-aksi dari para "polisi internet" ini sungguh tidak main-main.

Situs-situs porno, situs jaringan sosial semacam Facebook, Twitter, atau Multiply, situs penyedia jasa blogging seperti Blogspot atau Wordpress, Youtube, dan masih berderet situs-situs lainnya, tidak dapat diakses langsung dengan koneksi internet. Penyebabnya? Diblokir aksesnya dari sentral. Dan untuk mengakses situs-situs di atas (minus situs porno :D), saya dan warga-warga asing lainnya harus menggunakan penyedia jasa proxy. Bahkan Google serta Yahoo diawasi penggunaan dan lalu lintasnya.

Keuntungan dari keberadaan "polisi internet" ini adalah lalu lintas data dapat dipantau. Setiap pengakses internet yang menyalahgunakan kewenangannya dengan membuka situs porno dapat dilacak, dan situs-situs porno ini dapat langsung diblokir aksesnya. Moral bangsa terlindungi dari hal-hal yang merusak.

Negatifnya, para "polisi internet" ini dapat memblokir akses terhadap situs-situs yang dianggap "membahayakan negara" semisal Facebook atau Twitter karena isu-isu sensitif di dalam negeri dapat diketahui oleh dunia secara umum. Dalam hal ini, kebebasan berpendapat dan berekspresi dari warga negara dapat dikatakan diberangus dan diingkari.

Pada akhirnya, bagi warga PRC, keberadaan "polisi internet" ini adalah 2 sisi dari koin yang sama. Dan saya bertanya-tanya, dapatkah konsep "polisi internet" ini diterapkan di Indonesia? Bagaimana menurut anda?[sri kirana]

televisi dalam paradoks kebebasan pers


Kebebasan pers dan liberalisasi industri media merupakan salah satu hasil liberalisasi politik dan demokratisasi.

Namun, praktik kebebasan pers dan liberalisasi industri media itu berpotensi mengancam keberlangsungan liberalisasi politik dan demokratisasi yang melahirkannya. Paradoks kebebasan pers itu tampaknya merupakan fenomena dalam penggal historis spesifik saat neoliberalisme menjadi ide dominan.

Sejumlah kasus di Tanah Air pasca-Orde Baru menunjukkan fenomena adanya paradoks itu. Perhatian perlu diarahkan ke sektor industri penyiaran, yang menggunakan ranah publik yang terbatas, yang penguasaan pasarnya relatif lebih besar dan yang potensi dampaknya terhadap kehidupan politik relatif lebih besar daripada media lain. Contoh, kasus musyawarah nasional sebuah partai politik baru-baru ini, saat dua konglomerat media penyiaran terlibat persaingan politik dengan memanfaatkan media yang mereka miliki.

Saat ini, kebebasan pers dan liberalisasi industri media di Tanah Air jelas merupakan produk liberalisasi politik. Memang awal liberalisasi politik tidak lepas dari dukungan dan peran pers dalam mendelegitimasi rezim Soeharto. Namun, proses-proses politik lebih lanjut, yang dimungkinkan adanya demokratisasi dan liberalisasi politik, kian memantapkan kebebasan pers (antara lain adanya jaminan hukum bagi pelaksanaan kebebasan pers) dan liberalisasi industri (yang menghapus lisensi pers) dan memperbanyak pemain dalam sektor industri televisi, serta praktis menghilangkan kendala politik bagi calon investor industri penyiaran untuk "masuk".

Pertanyaannya, apakah liberalisasi sektor industri media dan kebebasan pers justru kontraproduktif dalam proses lanjutan demokratisasi di Tanah Air?

Keberpihakan politik

Dalam koteks itu, konsep kebebasan pers tidak bisa didefinisikan secara klasik dan sempit, semata-mata sebagai kebebasan dari pemerintah bagi jurnalis atau mereka yang mampu memiliki media, guna menyebarluaskan informasi dan mengekspresikan pendapat mereka. Definisi klasik dan sempit itulah yang tampaknya dominan dimiliki jurnalis dan mendasari praktik jurnalistik mereka; definisi itu pula yang kini menguasai konsepsi publik tentang kebebasan pers.

Pengertian kebebasan pers klasik itu mengandaikan media berfungsi menjaga kepentingan publik dari pemerintah, rezim penguasa, atau negara. Padahal, definisi itu didasarkan asumsi tidak adanya kontradiksi internal sistem kapitalis, di mana kompetisi akan mengarah pada konsentrasi kepemilikan media atau penguasaan pasar oleh konglomerasi media. Semua itu mampu menjadikan sebuah konglomerasi media melakukan hegemoni makna atau memonopoli definisi tentang realitas seperti dilakukan penguasa otoriter, di mana pun juga, terhadap warganya.

Definisi klasik itu melihat, media merupakan entitas, tunggal, mengabaikan realitas adanya berbagai unsur di dalamnya (pemilik, manajer, jurnalis, dan pekerja media lain) yang terjalin dalam hubungan kekuasaan yang tidak berimbang. Dalam hubungan timpang itu, mudah tumbuh kondisi tidak demokratis, yang membuat idealisme jurnalis tunduk kepentingan ekonomi dan politik unsur dalam media yang memiliki surplus kekuasaan.

Lebih dari itu, pemahaman kebebasan pers klasik juga mengabaikan media sebagai institusi ekonomi-politik. Media jelas memiliki kepentingan untuk melakukan akumulasi dan ekspansi modal. Untuk itu, selain kecenderungan alami untuk lebih tunduk pada rating dan kebutuhan pengiklan, ditempuh pula praktik yang tidak selalu sejalan dengan kepentingan publik, melalui aneka upaya manipulasi selera dan kebutuhan publik, dan praktik komodifikasi segala aspek kehidupan publik (dari masalah pribadi, bencana, hingga kemiskinan), sebagaimana bisa diamati melalui televisi dan menjadikan tayangan seperti itu seolah kebutuhan obyektif dan alami.

Dalam konteks ini, kebebasan pers tidak lagi bisa dikaitkan konsepsi kebebasan demi melindungi publik dari penguasa.

Eksistensi media penyiaran sebagai institusi ekonomi itu pula yang menciptakan potensi finansial sebagai institusi politik, utamanya sebagai media bagi aspirasi dan kepentingan politik penguasa media. Lebih dari itu, dengan sistem pemilihan berbiaya tinggi seperti dikenal di Tanah Air saat ini, muncul modus produksi kekuatan yang kian bertumpu pada sumber daya finansial. Dengan demikian, sebuah konglomerasi media mampu menanamkan pengaruhnya terhadap anasir-anasir legislatif dan eksekutif melalui kekuatan finansial yang dimiliki. Kemungkinan semacam ini juga berlawanan dengan proses demokratisasi dan menunjukkan kebebasan pers tidak selalu tepat diletakkan hanya dalam konteks kebebasan dari rezim penguasa.

Kebebasan berekspresi

Uraian itu menunjukkan, posisi media, dalam triangulasi hubungan antara negara, pasar, dan masyarakat, tidak mudah terdeteksi pasti. Karena itu, kerangka pemikiran yang memandang kebebasan pers secara sempit, hanya sebagai kebebasan dari negara, atau rezim penguasa, tidaklah realistis.

Karena itu, kebebasan pers perlu didefinisikan lebih kontekstual, sesuai kondisi historis spesifik perkembangan ekonomi-politik yang ada, khususnya tahap perkembangan kapitalisme di sektor industri media.

Pertama, kebebasan pers, selain mencakup kebebasan media dan jurnalisnya dari tekanan serta campur tangan penguasa, juga harus mencakup dimensi kebebasan organisasi media dari tekanan pasar.

Kedua, definisi kebebasan pers perlu mencakup dimensi kebebasan mempraktikkan kaidah-kaidah dan etika profesi bagi jurnalis profesional dari tekanan kepentingan ekonomi-politik pemilik modal.

Ketiga, yang paling esensial, konsepsi kebebasan pers harus selalu dikaitkan kebebasan publik untuk mendapat informasi demi pencerahan dan pemberdayaan diri. Selain itu, juga perlu dilekatkan dengan kebebasan publik guna mendapatkan akses ke media, berekspresi dan berpartisipasi secara demokratis dalam wacana yang menyangkut kepentingan mereka bersama, khususnya melalui media penyiaran yang menggunakan ranah publik bagi operasi akumulasi dan ekspansi modal. Dari segi ini, publik akan mempertanyakan argumen pemilik media penyiaran, yang memperoleh konsesi untuk menggunakan ranah publik, bila media yang dimiliki digunakan sebagai media atau alat kepentingan politiknya.

Dalam pengertian kebebasan pers yang dikaitkan kebebasan publik untuk berekspresi, pers tak selalu harus netral dan bebas nilai. Pers harus berpihak pada nilai-nilai yang diakui bersama dan disepakati atau yang bersifat universal. Keberpihakan terhadap nilai-nilai tertentu itulah yang menjadi dasar keberpihakan politik, bila kondisi menghendaki campur tangan pers. -Dedy N Hidayat Dosen Pascasarjana Ilmu Komunikasi FISIP UI

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/31/04270340/televisi.dalam.paradoks.kebebasan.pers

last man standing in liputan 6 sctv


Hari ini tanggal 31 Oktober merupakan hari bersejarah bagi saya dan kurang lebih 120 karyawan SCTV yang resmi mengundurkan diri secara massal. Sebuah skenario yang telah dirancang dua atau tiga tahun lalu saat jajaran kepemilikan Stasiun TV swasta nomor 2 terbesar di Indonesia.

PHK dengan model di pensiun dini atau pengajuan mengundurkan diri. Setelah melalui proses satu bulan perdebatan dan perkelahian mental di perusahaan , saya harus menerima kenyataan dan memilih meninggalkan lokasi kerja yang selama ini saya cintai dan ikut mendirikan bata demi bata hingga besar menjadi sebuah raksasa media TV di Indonesia. Tidak ada banyangan sama sekali saya harus meninggalkan tempat yang begitu awalnya nyaman, menantang dan kreatif. Saat saya bergabung di periode 96 dulu di IWI, Liputan 6 masih menjadi bayi dan diasuh oleh Ibunya Suminta Tobing, yang berjuang melawan kebesaran kakak SCTV yakni RCTI. Dari bayang bayang Seputar Indonesia akhirnya mampu meledak menjadi sebuah Ikon Jurnalisme TV yang baru di era 1998.

Saya telah bergabung kembali saat kerusuhan Mei meledak dan menghancurkan tatanan demokrasi ala Orde Baru. Kenangan yang sangat indah kepada teman teman sekantor tertanam di sanubari saya yang menjadikan alasan saya bertahan di Liputan 6 , sebuah logo emas yang saya sempat abadikan ketika di Hongkong , para konglomerat Asia melihat SCTV adalah merk terbaik dari media televisi. Kebanggan saya sudah pernah mengawali stasiun ini. Kekerabatan , semangat kebersamaan, dan perjuangan keras atas loyalitas, jurnalisme adalah yang tertanam pada saya dan rekan rekan di stasiun ini. Setidaknya jiwa saya sepenuhnya hanya melihat Liputan adalah tempat terbaik saya mengabdi kepada dunia jurnalis.

Saya tidak pernah berpikir tentang jabatan atau karir saya di liputan 6 meskipun situasi dan kondisi mulai berubah drastis. Saat SCTV dan Liputan 6 sudah berkembang besar dan menuai kekayaan yang amat luar biasa. Gaji sudah tidak saya pikirkan 5 tahun lalu , tidaklah besar buat saya gaji waktu itu dibanding selevel saya lainnya. Namun Spirit the Corps lah yang menghidupi saya.

Apakah mungkin kebodohan saya tidak mampu membaca situasi waktu itu , mungkin saya sadari sekarang. Perubahan drastis mentalitas teman teman sekantor berubah saat satu persatu orang hebat diliputan 6 meninggalkan perahu, dari Ibu Ita, Mas Riza, hingga datangnya Karni Ilyas. Semua jalan berubah dan situasi berubah, semua yang baru datang menjadi dewa dan penikmat Liputan 6.

Kekayaan yang besar bagi SCTV telah merubah mentalitas karyawannya dari solidaritas menjadi pencari emas (maaf) merasa sebagai penyelamat dan pembangunnya. Saya hanya bisa mengikuti irama pergolakan demi pergolakan antar teman yang menjadi pejabat itu dan pejabat ini hingga akhirnya masa itu berakhir di gedung Senayan City. Seterusnya terjadilah apa yang sudah menjadi tradisi di Liputan 6, menjadi pecundang atau menjadi amtenar atau juragan. Liputan 6 seperti sebuah tempat terkutuk seperti yang pernah dijargonkan oleh para pendirinya The Jungle. Welcome to the jungle adalah ucapan selamat datang bergabung diLiputan 6.

Memang tidak terbayangkan sebelumnya masa sepuluh tahun lalu menjadi seperti sekarang ini. Saya sudah berusaha menyakinkan teman teman agar tim spirit 98 menjadi pegangan untuk kejayaan Liputan 6, tapi gagal karena sikon yang semakin membentuk sikap individualis dan menang sendiri. Sebuah tim akan gagal dan hancur akibat tidak memiliki spirit yang sama, tidak adanya kerelaan, pengorbanan, kedisiplinan, persaudaraan, kesetiaan , kritis dan saling mengingatkan.

Saya teringat ketika Ira Koesno menanyakan kenapa masih bertahan dan lulus dari kegilaan di Liputan 6 waktu itu. Hahaha saya hanya menjawab saya ingin menjadi the last man standing in liputan 6. Dan jadilah saya seperti sekarang ini benar benar mengalami proses yang sangat menyakitkan sekali. Tidak ada seorangpun yang membayangkan dan enjoy saat keluar dari tempat yang dicintai. Mungkin puluhan alumnus dahulu sama mengalami proses alienalisasi seperti saya. Tidak di hargai, tidak di hormati dan tidak dilagi di sahabati oleh temen temen yang ada. Saya mengalami hal serupa.

Pertempuran di liputan 6 ternyata lebih dasyat daripada saat saya memanggul kamera , atau terjun dari helikopter menuju lokasi pengungsian di Meulaboh. Mentalitas tercabik cabik dan unhappy. Tapi inilah kenyataan di SCTV dengan pemilik barunya.

Mendirikan kembali tenda SP SCTV mungkin akan menyelamatkan situasi dan kondisi mental kawan kawan di SCTV dan Liputan 6, tapi itupun seperti nasib para perintis dahulu dirobohkan angin besar dan tangan teman sendiri. Tapi tak apalah, pengalaman besar selama 13 tahun di SCTV dan Liputan 6 memang menempa saya menjadi orang yang harus realistis, dan sabar, bahkan harus menerima semua kenyataan pahit sebagai seorang jurnalis indonesia. Hard works underpayment and be proletar.

Faktor situasi dan kondisilah dua tahun ini yang harus menjadikan saya berpikir revolutif. Tempat ini telah menjadi toxic area dan menjadikan saya toxicist juga. Sudah tidak welcome lagi untuk saya bekerja

Pemilik tidak menghendaki lagi dan memiliki hak untuk membersihkan dan membawa kapal SCTV berlayar kemana. Pemilik baru berhak menentukan direction dan destinasi kapal SCTV mau kemana, saya harus loncat dan tinggalkan kapal karena sudah tidak seiman lagi.

Ranjau udah dipetakan dan sosok sudah di perjelas siapa, dan bagaimana masa depan sudah mulai terjelaskan. Saya sudah tidak cocok lagi dan tidak bisa lagi berkembang di kapal kehidupan itu. Memutuskan meninggalkan biduk ini adalah keputusan pribadi yang penuh gejolak dan gambling yang besar. Keputusan revolusioner saat dunia kerja tengah lesu, meninggalkan gaji dan kemewahan dari Liputan6 dan SCTV yang tengah kaya raya dari tv yang lain.

Tidak perlu saya sesali kembali apa yang telah terjadi, seperti halnya nasihat nasihat Islami yang telah saya dalami, tidak ada kehidupan di dunia tanpa diperjuangkan dan di jalani, Allah SWT mengiringi manusia dikondisi apapun, marah, miskin, kaya, hura hura, atau maksiatpun , Allah terus memberkahi manusia seperti saya meskipun jarang berterima kasih kepadaNYa.

Penggalan catatan ini adalah buat teman teman di SCTV dan Liputan 6 yang masih bertahan. Semoga kehidupan kapal dimasa datang lebih baik, dan lebih menyenangkan dari 10 tahun lalu atau saat saya meninggalkan kapal ini di 2009. Jagalah selalu persaudaraan dan ukuwah antar teman, tidak ada keberhasilan tanpa kekompakan dari satu sama lain. Pengorbanan dan kerelaan adalah wilayah yang selalu dijaga bila tempat bekerja menjadi tempat menyenangkan.
Leburkan kemarahan , dendam dan permusuhan di antara kita baik saya yang sudah keluar atau temen teman yang masih tinggal.

Maafkan saya atas kesalahan dan perilaku buruk yang mungkin teman teman rasakan , dan maafkan saya tidak lagi mendamping perjuangan temen teman yang masih setia di SP SCTV. Pertahankan idealisme kita meskipun kenyataan pahit harus ditelan.

Selamatkan layar demi para pemirsa setiamu meskipun tidak memuaskannya. Lebih baik meminum tiga gelas sehari daripada memiliki satu drum air tanpa bisa diminum hhahahahahahaha. Good bye friend, May Allah Be With You.........frans ambudi melaporkan dari Dunia facebook 747. [FRANS AMBUDI -- 30/10/2009]

Oktober 30, 2009

tayangan tv lokal diharapkan jadi alternatif


Stasiun televisi lokal diharapkan bisa menjadi alternatif bagi penonton untuk mendapatkan tayangan yang bermanfaat bagi keluarga, khususnya anak-anak, di tengah maraknya tayangan televisi swasta nasional.

Saat ini tercatat sedikitnya ada 60 stasiun televisi lokal yang tersebar di sejumlah daerah, setelah UU No. 32/2002 tentang Penyiaran disahkan pada 7 tahun lalu.

Hampir seluruh daerah memiliki setidaknya satu televisi lokal. Bahkan ada darah yang lebih dari satu.

Nina Mutmainnah Armando, anggota Tim Panel Pemantau Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, menyebutkan dari hasil temuan tim terhadap acara televisi bermasalah ternyata banyak klasifikasi acara di televisi swasta nasional yang tidak tepat. Banyak acara yang mengandung kekerasan serta melanggar norma kesopanan dan kesantunan.

"Hanya sedikit acara televisi di Indonesia yang 'ramah keluarga', baik itu di televisi lokal maupun swasta nasional, sehingga diperlukan kearifan pelaku usaha pertelevisian untuk lebih bertanggung jawab kepada masyarakat," katanya seusai diskusi bertajuk Kearifan Lokal di TV Lokal Jakarta, kemarin.

Data Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) menyebutkan rata-rata anak usia sekolah dasar menonton televisi 30 jam-35 jam per minggu atau 4 jam-5 jam per hari pada hari biasa dan 7 jam hingga 8 jam per hari pada hari Minggu atau hari libur.

Apabila waktu menonton televisi dibandingkan dengan lama waktu bersekolah, waktu menonton televisi anak mencapai lebih dari 1.500 jam setahun, sedangkan jam belajar (di sekolah negeri) hanya sekitar 750 jam setahun.

Dalam kesempatan yang sama, Komisaris B Channel Sofia Koswara menuturkan sebaiknya televisi lokal menyediakan ruang luas untuk mengemas keunggulan daerah secara lebih mendalam dan juga memenuhi kebutuhan anak-anak terhadap media yang sesuai untuk mereka.

Menurut dia, kehadiran Televisi B Channel diharapkan mampu mendekatkan diri kepada pemirsa, dapat diterima masyarakat lokal, dan mengubah pola pikir pemirsanya, serta mampu bersaing dengan televisi nasional.[R. Fitriana]

Oktober 19, 2009

ac nielsen: televisi tak usah khawatir dengan internet!

Sudah saatnya bujet iklan perusahaan dialokasikan untuk melakukan promosi di internet. Sebuah survey yang dilakukan AC Nielsen menunjukkan bahwa sekitar sepertiga dari pengguna internet juga menonton televisi ketika sedang melakukan browsing. Demikian dilansir Reuters.

Dalam fakta yang ditemukan oleh AC Nielsen, bahwa penggila internet adalah penonton fanatik dari televisi. Mereka menghabiskan sekitar 250 menit setiap hari di depan televisi dan bandingkan dengan penonton televisi yang tak pernah berselancar di internet dan hanya menghabiskan waktunya selama 220 menit di depan televisi.

Hasil ini merupakan kabar menarik bagi televisi yang khawatir dengan kehadiran dari internet akan membuat penonton televisi berkurang bahkan hilang. Ini juga akan menolong sebuah penjelasan adanya kekuatan media baru yang berjalan seimbang dengan penonton televisi.

"Televisi memang membutuhkan investasi waktu yang banyak dan di satu sisi ada banyak orang- orang yang juga menggunakan internet dan di mana waktu lebih banyak dihabiskan, ini adalah jawaban dari apa yang sedang terjadi," kata juru bicara Nielsen, Gary Holmes.

Laporan ini menggunakan sampel dari 3.000 orang dari lebih 1.000 rumah tangga selama periode Mei. Laporan ini juga tidak melakukan perbedaan dari tipe internet yang digunakan oleh para penonton televisi meski rata-rata yang dilakukan oleh pengguna internet adalah melakukan pencarian, membaca email, dan melakukan komunikasi teks, serta berbelanja secara online.[Widyabuana]

Oktober 14, 2009

duka ranah minang: tv one vs metro tv

Pemberitaan dan pengungkapan informasi seputar peristiwa ‘Perang Global Pemerintah Indonesia terhadap Terorisme’ yang ditayangkan melalui media tivi, bagi sebagian besar pemirsa, tak dapat terhindarkan, harus diakui, TV ONE adalah jawaranya dibandingkan dengan saluran stasiun tivi pesaingnya.

Harus diakui, TV ONE menayangankannya dengan relatif sangat detail, dilengkapi info aktual, diiringi nuansa spirit yang penuh semangat, narasi yang menggugah sekaligus menyentuh, dilengkapi dengan tambahan pernak-pernik kisah-kisah dramatis yang ada dibalik peristiwa kasat matanya.

Paling tidak begitulah yang dirasakan oleh sebagian kalangan. Hasilnya, entah berkorelasi langsung atau tak langsung, turut menggugah kesadarannya mayoritas rakyat Indonesia untuk mewaspadai gerak-geriknya mereka-mereka yang ber-jenggot, ber-celana ngatung, ber-jidat dengan noktah hitam, ber-surban, ber-gamis, serta perempuan-perempuan ber-wajah tertutup cadar.

Di masa depan, entah akan berlangusng sampai berapa puluh tahun ke depan, mereka yang ber-jenggot, ber-celana ngatung, ber-jidat dengan noktah hitam, ber-surban, ber-gamis, serta perempuan-perempuan ber-wajah tertutup cadar, sangat bisa jadi akan termarjinalkan dari pergaulan sosial di masyarakat sekitarnya.

Saat ini, lagi hangat-hangatnya tragedi gempa bumi di Ranah Minang, wilayah Sumatera Barat lalu disusul dengan guncangan serupa di wilayah Jambi.

Tingkat kedahsyatannya daya rusaknya, maupun korban yang terjadi ditanah tempat kelahiran Muhammad Hatta dan Buya Hamka ini memang masih kalah jauh dibandingkan dengan kedahsyatan dan kerusakan akibat bencana yang pada waktu lalu pernah terjadi di Serambi Makkah, Aceh.

Akan tetapi, relatif lebih dahsyat dan lebih massif tingkat kerusakannya jika dibandingkan dengan bencana gempa bumi serupa yang pernah menimpa wilayah tlatah Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat.

Pada waktu bencana Aceh, tak dapat dipungkiri, METRO TV merupakan stasiun tivi yang berada di garda paling depan dalam menayangkan dan menungungkap serta menginformasikan info akual dengan sangat detail, dilengkapi dengan tambahan pernak-pernik kisah-kisah dramatis yang ada dibalik peristiwa bencana itu, diiringi nuansa spirit penuh semangat penggugah empati dan simpati dengan narasi yang menggugah sekaligus menyentuh kalbu sanubarinya pemirsanya.

Hasilnya, banjir simpati dan empati, mungkin selama seabad ke depan, mayoritas rakyat Indonesia bahkan masyarakat dunia masih akan mengalir bagi rakyat Aceh yang lagi dirudung duka.

Di masa depan, entah akan berlangsung sampai berapa abad ke depan, mayoritas masyarakat Indonesia akan terkenang betada ngerinya kedahsyatan bencana tsunami yang pernah terjadi di Serambi Makkah itu.

Memang begitulah peran vital dan kedigdayaan serta kestrategisan dari peran media televisi yang sangat efektif dalam menggugah kesadaran masyarakat, membangkitkan empati dan simpati masyarakat, membentuk opini masyarakat, termasuk menanamkan memori serta mengeset mainstream cara pandang masyarakat.

Kita tunggu saja peran media televisi dalam bencana gempa bumi di Ranah Minang ini. Kita tunggu kiprah TV ONE dan Metro TV, serta stasiun televisi lainnya.

Akankah termarjinalkan seperti pemberitaan peristiwa gempa bumi yang terjadi di wilayah dengan sebutan kota seribu pesantren, Tasikmalaya, yang terjadi pada beberapa waktu lalu, yang sekarang mulai terlupakan.

Semoga TV ONE dalam Duka Ranah Minang ini mampu mengulangi kehebatan kiprah dan prestasi serta semangatnya menyamai saat menayangkan peristiwa ‘Perang Global Pemerintah Indonesia terhadap Terorisme Islam’, dan semoga demikian pula dengan METRO TV yang sepak terjangnya akan sehebat kiprahnya sewaktu peristiwa ‘Tsunami Serambi Mekkah, Nanggroe Aceh Darussalam’.

Wallahualambishsawab.[bocah ndeso]

tayangan tv munas golkar

Jika tvone dan metrotv berlomba menonjolkan kebaikan para pemilik masing-masing dan saling menjelekan yang lain, dalam rangka pemilihan ketua golkar, sebenarnya bisa dimaklumi. Toh, dengan begitu para pemilih bisa memperoleh gambaran lengkap plus/minus kedua orang tersebut (walaupun saya tidak yakin, apakah para peserta munas sempat menonton televisi). Para pemilih juga yang diuntungkan, bukan?

Namun jika tv-tv tersebut mempersempit arti munas golkar hanya sebagai ajang pergantian ketua partai, ini yang tidak bisa dimaklumi. Mungkin orang golkar memang berpikiran sama dengan tv-tv tersebut. Mungkin ada pendapat, dengan begitu golkar akan segera mati, dan banyak pihak yang akan mensyukurinya. Tapi, televisi ditonton oleh jutaan masyarakat Indonesia, dan ini akan menjadi pengajaran yang buruk bagi masyarakat.

Setelah dibombardir berhari-hari dengan tayangan munas golkar yang temanya melulu tentang pemilihan umum, dipuncaki dengan tayangan sidang pemilihan ketua umum semalam. Ketika para akademisi dan pengamat politik yang diundang ke kedua tv tersebut beberapa hari yang lalu ngotot bahwa revitalisasi ideologi, visi dan misi partai jauh lebih penting daripada sekedar pemilihan ketua umum (para akademisi tadi diundang dalam konteks 'dukungan' mereka kepada masing-masing pemilik TV), para reporter tv menegasikan statement para akademisi dan pengamat politik tersebut.

Reporter tvone menyebut sidang pemilihan ketua umum semalam sebagai 'titik kritis dan menentukan bagi golkar', sementara reporter metrotv mengistilahkan dengan 'sidang terpenting dalam munas golkar kali ini'.

Alih-alih mengajarkan masyarakat untuk berjuang lewat partai, televisi tersebut mengajarkan bahwa yang terpenting dari partai adalah merebut kekuasaan dan menjadi pejabat partai.

Dan serial ini diakhiri dengan sebuah kelucuan. Dari pagi, saya belum melihat satu pun tayangan tentang munas golkar di metro tv. Mungkin saya terlewat?.[botchan]

konglomerar langsat

Aku itu kuaget 1/2 kuoit, ketika dapat undangan untuk menggemari langsungenak.com, di Facebook dari Nona Dita. "Apalagi ini?", pikirku dalam hati.

Aaarghhh... rupanya, mainan baru dari Langsat. Ck... ck... Hebat!!! Bener-bener spikles aku.

Semenjak membuat rumah blogger Indonesia, dagdigdug.com pelan-pelan memiliki banyak sahabat, sebut saja:

  1. Cerpenista.Com tempat Mengarang Gotong Royong
  2. Politikana.Com tempat diskusi Politik dan Demokrasi
  3. Ngerumpi.Com tempat ngerumpi yang Pakai hati, Tidak menyakiti
  4. CuriPandang.Com tempat Ngomongin Artis dan Entertainment
  5. Publikana.Com tempat memberikan Kesaksian dan Pengalaman dan
  6. LangsungEnak.Com tempat berbagi selera dan pengalaman kuliner
  7. dan...
  8. terus..., mungkin
  9. entahapalagi.com

Pernah main ke Langsat, mencicipi enaknya penganan di Wetiga.Com? Sembari menyimak diskusi para pakar Sawah Ladang Maya disitu. Aku pernah! Dan pernah nguping omongan Pak Didi Nugraha, bahwa di masa krisis, bisnis online termasuk bisnis tangguh yang mampu untuk bertahan dan bahkan berkembang. Dan ucapan itu bukan sekadar nasihat kepada para blogger muda yang hadir waktu itu. He did it...! Bersama Paman Tyo dan Enda Nasution dan kawan-kawan lainnya, bener-bener melakukannya. Gerrrr!!!!

Dari bisik-bisik dengan para blogger malam itu, aku sempat kepikiran, "Jangan-jangan di masa depan, Indonesia ditentukan dari Langsat?" Mungkin hanya pikiran absurd, tetapi kemungkinan ke arah itu ada.

Jadi, imho, bukan hanya sekadar bisnis yang mampu bertahan di kala krisis, namun lebih dari itu bisnis Online dari Langsat ini mulai menggurita, layaknya Konglomerasi. Jadi bukan mustahil, Opini-opini penting Negara dapat diluncurkan dari sini, dari Langsat.

(Berbahagialah anda telah register di salah satunya... karena berkesempatan memercik Opini dan Pendapat itu. hehehe...).[kang tutur]

Oktober 11, 2009

mari bermain-main dengan kata-kata

''Kita hampir tak pernah melihat kenyataan ,yang kita lihat itu pantulannya, dalam bentuk perkataan dan pemikiran,yang lalu terus kita anggap sebagai kenyataan. Dunia dimana kita hidup itu sebagian besar bangunan pikiran .Orang itu yang dimakan kata-kata,hidup dari kata-kata ,akan hancur tanpa itu semua!'' (Sejenak Bijak, Anthony de Mello)

Butuh waktu lama untuk mengerti dan meyakini tulisan tersebut,sampai akhirnya tercerahkan oleh tulisan "wartawan ecek-ecek". Begitu banyak kejadian yang kemudian menjadi polemik berkepanjangan gara-gara kata-kata yang terucap. Sudut pandang dan latar belakang keilmuan,sangat berpengaruh terhadap pemahaman-pemahaman baru tentang kejadian yang terjadi.

Di jaman media televisi, surat kabar dan internet yang semakin bebas dan terbuka, yang diperlukan adalah kearifan diri memaknainya. Kata-kata yang begitu melimpah di media-media tersebut bisa menjadi bumerang bagi kita, kalau kita percaya begitu saja pada "kenyataan" yang tertulis di dalamnya. Seperti kejadian longsor dan banjir yang melanda daerah Tawangmangu dan Solo, beberapa tahun lalu. Sebuah media lokal menulis di headlinenya "SOLO AKAN TENGGELAM" , tetapi kenyataan bahwa tidak semua Kota Solo sendiri tidak banjir besar.

Bermain dengan kata-kata memang mengasyikan! Contohnya R&D (Research and Development), ada yang secara "nakal" mengartikan Rust and Dust ( berkarat dan berdebu ) atau lebih "sadis lagi" Real Dumb (pandir betul). Balitbang bisa juga diartikan Badan yang sulit berkembang. Tapi juga jangan mengartikan Litbang sebagai red asshole ( kalau orang jawa pasti tahu artinya litbang yg saya maksud.)

Jadi, kearifan diri lah yang akan membuat kata kata menjadi "senjata makan tuan" atau "senjata mematikan".[Esemge]

Oktober 09, 2009

wawancara ecek-ecek


Dalam ranah jurnalistik televisi, wawancara reporter dan kamerawan terhadap narasumber di lapangan dilakukan untuk menggali fakta atau mengutip pernyataan suatu fakta. Saat menggali fakta, reporter mencatat atau merekam seluruh keterangan di atas buku catatan atau tape-recorder. Artinya, kamerawan tidak disertakan. Sedangkan dalam mengutip pernyataan, rekaman fakta direkam oleh kamerawan.

Selain reporter dan kamerawan, anchor atau presenter di studio juga kerap melakukan wawancara dengan narasumber secara langsung. Baik dengan menempatkan narasumber di studio maupun di tempat lain secara tele-conference. Tujuannya, selain menggali fakta juga untuk mendapatkan analisis soal fakta.

Menarik juga menyaksikan wawancara presenter dengan seorang narasumber di sebuah stasiun televisi swasta usai penggerebekan tersangka teroris -- Syaifudin Zuhri dan Muhammad Syahrir -- di kawasan Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten, 9 Oktober kemarin. Saat itu presenter bertanya tentang ciri-ciri tersangka.

Lantas sang narasumber yang tetangga kost para tersangka teroris itu menuturkanya secara rinci, "Tinggi, putih, rambutnya ikal, blablabla... Tapi, dia tidak memakai kapayeh atau sorban, tidak memelihara janggut, dan tidak memakai gamis, seperti biasanya para teroris!"

Ketika Densus 88 menggerebek rumah Susilo di kawasan Mojosongo, Solo, Jawa Tengah, pertengahan September lalu, presenter tersebut juga mewawancarai seorang tetangga tersangka teroris. Banyak pertanyaan yang diajukan sang presenter kepada narasumbernya. Intinya, ia ingin menggali fakta sedalam-dalamnya soal sosok Susilo, tersangka teroris dan juga warga kawasan itu.

Katanya, "Bagaimana kesehari-harian Susilo? Apakah dia selalu menggunakan gamis? Suka berceramah di masjid di kawasan Anda? Apa suka menjadi imam di masjid Anda? Apa dia juga suka mengajari mengaji? Dst...."

Dari dua kasus di atas, saya ingin memastikan bahwa bila pada kasus pertama narasumber sudah "memasang" proto-type tersangka teroris di benaknya -- saya tidak tahu kenapa dia memiliki pemahaman seperti itu. Sedangkan pada kasus kedua, presenter yang merancang pemahaman soal proto-type tersangka teroris untuk "diiyakan" oleh narasumber.

Saya yakin, wawasan sang presenter tentang tersangka teroris hanyalah pada simbol-simbil tersangka teroris yang selama ini muncul. Sehingga, dia tidak mempertimbangkan bahwa tersangka teroris bisa tampil dengan rupa atau simbol apa saja. Selain itu, saya juga yakin, sang presenter tidak mempertimbangkan ketersinggungan umat agama tertentu atas "design" pertanyaannya itu.

Dan, bisa jadi, pendapat narasumber pada kasus pertama merupakan rekaman atas "rancangan" pertanyaan atau opini yang dijejalkan oleh presenter atau stasiun televisi tentang sosok tersangka teroris. So, haruskan wawancara ecek-ecek semacam itulah yang harus terus berhamburan dari layar kaca di dalam rumah kita? [POLITIKANA]

Tangerang, 10 Oktober 2009

Oktober 08, 2009

jurnalisme ecek-ecek



Seorang petinggi di sebuah stasiun televisi swasta pernang menyindir bahwa berita televisi itu termasuk berita ecek-ecek. Karena , tidak ada kedalaman fakta, tidak ada kelengkapan fakta, tidak ada pengayaan wawasan. Berita televisi ditulis televisi seakan clip fakta. Hanya bagian paling menarik dari sebuah peristiwa. Bahkan, bagian dramatik dari sebuah peristiwa.

Semula saya cukup masgul dengan komentarnya itu. Saya maklum dengan kredibilitasnya sebagai wartawan media cetak. Durasi menekuni profesi itu memang sudah menahun. Mungkin, kalau ada perguruan tinggi yang berminat, ia layak juga menyandang gelar profesor. Tapi, kok komentar seperti itu muncul ketika ia berada di lingkungan stasiun televisi? Bukankah ironis? Bahkan, saya cenderung menilainya, gegabah?


Kenapa?


Saya sangat tahu, orang itu memang tidak pernah mempelajari proses pekerjaan jurnalistik televisi. Bahkan, ketika ia menempati posisi puncak, ia tidak langsung belajar dan beradaptasi. Tapi, justru ia bermain-main dengan kekuasaannya. Sehingga, ia tidak pernah merasakan sulitnya memainkan bahasa audio dan video. Apalagi, merasakan kenikmatannya!


Kalau saja ia mau bertanya ke kiri dan kanan soal televisi, wah banyak hal yang tidak akan pernah terbayangkan sebelumnya. Misal, pemahaman bahwa menulis naskah berita televisi itu laksana menulis skenario film. Bahwa meliput berita televisi itu laksana menyutradarai film dokumenter. Bahwa menyunting dan memproses sebuah naskah menjadi berita televisi itu laksana produser film dokumenter. Karena pemahaman-pemahaman seperti itu, jurnalis televisi bisa menekuni pekerjaannya hingga bertahun-tahun dan tidak pernah merasa bahwa pekerjaannya tergolong ecek-ecek.


Namun di luar pemahaman "sederhana" itu, saya tetap berkeyakinan, ilmu dan penguasaan akan masalah jurnalistik televisi akan membedakan pendapat tentang hasil kerja jurnalis televisi itu. Sejauhmana kemampuannya tentang televisi tentu akan memperlihatkan visi yang sebenarnya tentang apa-apa yang ada di lingkungan televisi.


Belakangan, ketika Sumatra Barat diguncang gempa berkekuatan 7,6 skala ricther, tiba-tiba saya teringat kembali sindiran "berita ecek-ecek" tadi. Persisnya, setelah mendengar cara bercerita berita-berita yang disajikan sejumlah stasiun televisi swasta. Bila dilihat secara random, saya melihatnya; porsi drama cenderung teramat besar, sehingga mengalahkan esensi informasi. Idealnya, fakta menjadi menu utama dibandingkan asesoris-asesoris yang cenderung imajinatif.


Menurut gambar yang dijadikan, sebenarnya tidak terlalu bermasalah. Standar peristiwa gempa, ya seperti itu. Perkara ibu-ibu atau anak-anak yang meraung-raung atau drama kesedihan lain yang tampil di puncak tubuh berita, juga harus maklum. Karena pertimbangan eye catching. Tapi, menyangkut narasi yang memaparkan fakta dalam tubuh berita?


Itu yang menjadi masalah. Demi mengejar poin dramatik, para "kreator" itu pun memainkan jurus-jurus bahasa yang agak "ngesastra". Bahkan, cenderung seperti puisi. Sehingga, seorang penonton bocah bertanya kepada saya, ini berita apa puisi? Parahnya lagi, narasi yang "dipuisikan" itu bukan lagi fakta tapi hiperbola perasaan sang penulis berdasarkan gambar yang dilihat. Karena, sang penulis bukanlah reporter yang meliput. Tapi, ia menulis berdasarkan gambar dan fakta yang dikirimkan reporter di lapangan. Akhirnya, saya bisa berkesimpulan bahwa berita itu sesungguhnya interpretasi sang penulis berdasarkan gambar dan fakta reporternya.


Dan bila harus dipaksakan sebagai berita interpretatif, apa harus seperti itu?


Sungguh, saya tidak berani membolak-balik catatan Ilmu Jurnalistik yang pernah didapat di bangku kuliah atau buku-buku referensi di lemari perpustakaan. Apalagi menghubungkannya dengan teori-teori penulisan berita televisi. Terlebih lagi, bila mencoba menghubungkannya dengan pemahaman menulis berita yang seperti menulis skenerio. Wah, kok benar-benar makin nggak nyambung!


Dan, kalau mau jujur, ternyata "berita-berita interpretatif" seperti itu bukan hanya terjadi pada penyajian berita-berita gempa di Sumatra Barat. Berita-berita lain, baik politik, hukum dan kriminal, atau ekonomi dan bisnis, belakangan cenderung penuh dengan interpretasi yang berlebihan – meski tidak menggunakan bahasa yang berpuisi-puisi. Bahkan, cenderung sebagai pendapat. Sehingga tidak jelas lagi, apa sesungguhnya fakta dari berita-berita itu?


Kalau sudah begini, artinya terbukti berita-berita televisi sekarang tergolong ecek-ecek? [POLITIKANA]


Tangerang, 09 Oktober 2009

Oktober 02, 2009

peringatan dini bagi metrotv, tv ne, dan antv soal peliputan calon ketua umum golkar

MetroTV, TV One, dan ANTV pagi tadi melakukan klarifikasi soal peliputan calon Ketua Umum Golkar kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat. Setelah mendapat kritikan dari masyarakat atas tayangan mengenai perebutan kursi jabatan Ketua Umum Golkar yang dinilai bersifat partisan dan akan mengancam demokrasi, KPI meminta klarifikasi dari ketiga media tersebut.

Pihak MetroTV yang diwakili oleh Suryopratomo mengatakan bahwa konten berita telah sesuai dengan peristiwa yang ada. "Kami adalah profesional dan tidak memihak salah satu calon, meskipun salah satu calon adalah pemilik stasiun TV kami," kata Suryopratomo. Menurutnya porsi peliputan calon Ketua Umum Golkar sudah berimbang, TV adalah milik masyarakat dan untuk kepentingan masyarakat. "Pemirsa saat ini sudah semakin pintar, mereka dapat dengan mudah beralih ke TV lain jika tidak suka maka dari itu kami berusaha untuk profesional," tambahnya.

Sedangkan dari pihak ANTV yang diwakili oleh H. Azkarmin Zaini, Dudi Hendra Kusuma, dan Edy Sunaryo merasa tidak ada pelanggaran pada peliputan calon Ketua Umum Golkar. Menurut Azkarmin Zaini, peliputan telah sesuai dengan fakta yang ada, dari ke empat calon ada dua yang bersaing kuat, dan fakta yang ada di lapangan kedua calon tersebut aktivitasnya paling banyak sehingga paling banyak diliput.

Menurut pihak TVOne yang diwakili oleh Deny Hafas, kaidah jurnalistik tetap menjadi pegangan dalam liputan menjelang Musyawarah Nasional Golkar.

Berbeda dengan klarifikasi dari perwakilan ketiga media tersebut, Leo Batubara dari Dewan Pers melihat ada indikasi tidak berimbangnya peliputan calon Ketua Umum Golkar. Menurutnya masalah yang dihadapi sekarang adalah alat ukur, alat ukur yang digunakan adalah ruang dan waktu maka harus ada liputan yang berimbang dalam arti setara. Leo Batubara melihat MetroTV lebih fokus kepada salah satu calon sedangkan TVOne dan ANTV kepada calon ketua umum lainnya. Leo Batubara juga menambahkan ada dua calon kuat dari empat calon ketua umum yang ada, agar berimbang liputan calon Ketua Umum Golkar harus diberi porsi yang sama.

Menurut Yazirwan Uyun anggota komisioner KPI Pusat, kalau dilihat dari item berita tidak ada masalah, karena berita dapat diperdebatkan. Tetapi dari 3 talkshow yang disaksikannya di ketiga stasiun TV tersebut, terdapat konten yang sepertinya memihak salah satu calon.

Ketua KPI Pusat Sasa Djuarsa Sendjaja menjelaskan bahwa mengenai liputan calon Ketua Umum Golkar ini, baru ada indikasi pelanggaran yang dikumpulkan oleh KPI dari laporan masyarakat. Surat himbauan dari KPI Senin (28/9) kemarin sebagai peringatan dini agar media TV lebih berimbang dalam meliput perebutan kursi jabatan Ketua Umum Golkar. [INDONESIA TV GUIDE]